Tentang Pemain Komplet Bernama Stuart Dallas

Tentang Pemain Komplet Bernama Stuart Dallas

Leeds United menjadi tim promosi paling menarik di Premier League 2020/21. Naik level tak membuat anak asuh Marcelo Bielsa tampil reaktif kala menghadapi klub-klub yang lebih mapan. Bielsa mempertahankan filosofinya, memainkan sepakbola menyerang dan menghibur. Sepakbola Leeds menghantam klub-klub Premier League dan mengatrol mereka ke persaingan 10 besar.

Secara matematis, Leeds memang belum aman dari zona degradasi. Tetapi, capaian mereka jauh lebih baik dibanding klub sesama promosi, West Bromwich Albion dan Fulham. Dua tim ini berada di zona merah hingga gameweek 30. Sebaliknya, Leeds menempati peringkat 11, mengumpulkan jumlah poin yang sama dengan Arsenal, hanya kalah selisih gol.

Daya gedor Leeds jauh lebih baik daripada dua klub promosi yang lain. The Whites telah mencetak 47 gol (kebobolan 48), sedangkan Fulham baru mengemas 24 gol (kebobolan 41) dan West Brom 25 gol (kebobolan 59). Nilai peluang (xG) kumulatif Leeds (45,9) bahkan menjadi yang terbaik keempat di Premier League, hanya kalah dari Manchester City, Liverpool, Chelsea, dan Manchester United.

Prestasi tersebut dicapai Bielsa dengan mengandalkan sebagian besar skuad yang berkiprah di Championship musim lalu. Nama-nama seperti Luke Ayling, Patrick Bamford, Mateusz Klich, dan Stuart Dallas masih tak tergantikan di 11 utama.

Di antara skuad lawas Leeds, Dallas adalah salah satu sosok dengan profil permainan paling menarik di Premier League. Bek asal Irlandia Utara ini kapabel menjalankan bermacam peran yang diminta sang pelatih.

Dallas berperan penting dan tak tergantikan. Musim ini, ia selalu bermain dalam 30 pertandingan Leeds di Premier League. Ia mendapat menit bermain tertinggi di Leeds (2.689 menit). Ia selalu menjadi starter dan baru diganti dua kali sepanjang Liga Inggris bergulir. Dari dua pergantian itu, Dallas ditarik keluar ketika pertandingan memasuki menit 81 dan injury time.

Seringnya, Dallas dipasang sebagai full-back kiri. Namun, ia juga bisa berperang sebagai bek kanan maupun gelandang tengah. Melansir data Transfermarkt, di Premier League 2020/21, Dallas memulai pertandingan sembilan kali sebagai bek kiri, delapan kali sebagai bek kanan, enam kali jadi gelandang tengah, lima kali sebagai gelandang serang, dan masing-masing sekali di pos gelandang kanan dan gelandang bertahan.

Versatilitas sang pemain tak hanya menguntungkan sebagai opsi pelapis saat badai cedera. Hal itu juga membuat Dallas bisa mengemban peran canggih yang dituntut Bielsa.

Di skuad Leeds, entah di posisi mana pun ia diturunkan, Dallas terlibat aktif dan berperan krusial dalam tiga fase permainan, yaitu saat menyerang, transisi, dan bertahan.

Sebagai bek kiri, Dallas tak bermain sebagaimana bek sayap tradisional. Dallas tak hanya mengokupasi sisi sayap dan membantu serangan dengan overlap. Perannya lebih canggih, yaitu membantu konstruksi serangan dengan peran seperti gelandang, bergerak lebih ke tengah untuk menjembatani permainan.

Dalam membangun serangan, Leeds mengandalkan interplay cepat di kedua sisi lapangan. Ketika bermain sebagai full-back, Dallas terlibat secara efektif di sayap kiri. Biasanya, Dallas bekerja sama dengan winger dan gelandang tengah bagian kiri untuk melakukan progresi bola. Interplay di antara tiga pemain itu bertujuan mengirim bola ke area berbahaya sesegera mungkin.

Selain mampu bekerja sama dalam interplay, Dallas menunjukkan kemampuan retensi bola yang brilian. Ia cakap mementahkan pressing lawan. Ia mencatatkan umpan dari situasi pressing terbanyak di skuad Leeds (232). Meskipun ditekan, Dallas cakap mempertahankan bola lalu mengoper ke rekannya.

Daya retensi tersebut adalah buah dari kemampuan fisik dan kontrol bolanya. Meskipun kaki terkuatnya adalah kaki kanan, Dallas berhasil melatih kaki kirinya dengan baik. Kecakapan menggunakan dua kaki penting bagi kontrol bola sang pemain. Maka dari itu, ia bisa menerima bola dari berbagai sudut.

Kecakapan menggunakan dua kaki membuatnya tak memiliki sudut lemah dalam mengoper. Hal ini membuat Dallas lebih leluasa mengeksplorasi opsi umpan. Mengingat tujuan Leeds adalah membawa bola ke depan secepat mungkin, Dallas cenderung tetap mengirim umpan progresif ketika diadang. Saat pemain lawan menekan, dibanding melakukan umpan ke belakang (back pass), Dallas mampu berkelit dan mengirim umpan progresif ke rekannya yang bebas.

Di skuad Leeds, Dallas adalah penggawa dengan umpan progresif terbanyak kedua (149) setelah Luke Ayling dan mencatatkan umpan ke sepertiga akhir terbanyak ketiga (113). Ia juga cakap mengontrol bola. Dallas tercatat hanya 26 kali melakukan miskontrol dari total 1.425 kali menerima operan. Ia juga hanya 29 kali kehilangan bola akibat tekel lawan dari 2.122 sentuhan.

“Dia [Dallas] banyak terlibat di pertandingan. Dia tidak punya masalah untuk bermain menggunakan masing-masing kaki. Dia dapat bermain di tiga posisi di lapangan—di lini belakang, tengah, dan di lini serang,” kata Bielsa dikutip Yorkshire Evening Post.

“Selain itu, dia memiliki sesuatu yang terbaik, sesuatu yang tidak Anda lihat: Dia adalah rekan setim yang sangat baik dan seorang profesional tanpa cela,” lanjut pelatih asal Argentina tersebut.

Baca:  Man City dan Lyon Membidik Semifinal Kedua Mereka

Saat Leeds memasuki area berbahaya, Dallas pun dapat menjadi pemain menyerang yang mumpuni. Kualitas ofensifnya tercermin dari raihan lima gol dan dua asis Premier League. Di ajang liga, Dallas menjadi bek dengan jumlah gol plus asis (7) terbanyak, sama dengan pemain bertahan West Ham, Aaron Cresswell yang tak mencetak gol tetapi mengemas tujuh asis sejauh ini.

Dallas bisa menambah kehadiran pemain Leeds di kotak penalti lawan. Tiga dari lima gol eks pemain Brentford tersebut dicetak dari dalam kotak penalti.


Selain itu, Dallas tak ragu berspekulasi dengan tembakan jarak jauh. Golnya saat kalah 6-2 dari Manchester United dicetak dari luar kotak penalti. Dallas juga mencetak satu gol lain (vs Leicester) dari luar kotak. Waktu itu, umpan silangnya yang mengayun ke dalam (in-swing) dari sisi kiri justru berbuah gol.

Aspek defensif Stuart Dallas pun cukup menonjol. Gaya bertahannya cenderung agresif dalam menghadapi lawan. Pemain berusia 29 tahun adalah anasir reliabel dalam counter-press Leeds.

Di Premier League 2020/21, Dallas tercatat membuat 70 tekel, 45 intersep, dan 47 blok. 25 dari total tekelnya dilakukan di tengah lapangan dan empat di sepertiga akhir. Statistik area tekelnya menunjukkan bahwa Dallas sering berupaya merebut bola sebelum masuk ke sepertiga pertahanan. Alasannya, Leeds ingin merebut bola di area yang menguntungkan mereka dan sesegera mungkin memasuki fase menyerang.

Profil permainan Dallas amat menarik. Dia terlibat aktif dalam setiap fase permainan Leeds dan melakukannya dengan baik. Sebelum menjajal Premier League, pemain kelahiran Cookstown, Irlandia Utara ini telah menunjukkan keserbabisaan yang luar biasa.

Sebelum ditangani Bielsa, ia telah menjajal beragam posisi di Brentford, Northampton, dan Leeds. Namun, sebagaimana diakui sang pemain, eks pelatih Athletic Bilbao itu berhasil menempa permainanannya ke level yang baru.

“Dia [Bielsa] melihat permainan ini dengan sudut pandang berbeda. Dia menetapkan standar yang sangat, sangat tinggi—sesuatu yang kini saya tuntut dari diri saya sendiri,” kata Dallas kepada The Athletic.

“Itu [versatilitas] sudah menjadi bagian dari permainan saya sejak lama. Pasalnya, saya sangat atletis, saya memiliki tenaga lari yang amat besar. Saya bisa menempati tengah lapangan maupun berlari maju-mundur di lapangan. Dan di Leeds, Marcelo ingin kami, bukan hanya saya, untuk bermain di beberapa posisi. Saya jadi lebih mengerti permainan ini,” lanjut pemain dengan 52 caps Timnas Irlandia Utara itu.

Dari Tukang Kayu Menjadi Full-back Canggih

Stuart Dallas tidak tumbuh dalam sistem pesepakbola yang profesional. Ia lahir di Cookstown, sebuah kota kecil di barat Belfast. Dallas muda bermain sepakbola untuk tim sekolahnya sebelum bergabung ke klub amatir setempat, Coagh United.

Di Coagh, Dallas menjadi pesepakbola dengan kontrak paruh waktu. Ia biasa diturunkan sebagai winger. Oleh Ketua Coagh United, Brian Dallas, dia diberi pekerjaan sebagai tukang kayu. (Meskipun memiliki nama belakang yang sama, Brian Dallas tak memiliki ikatan keluarga dengan Stuart).

Selain butuh tambahan uang, Dallas latihan bekerja, berjaga-jaga jika ia gagal di sepakbola. Namun, ternyata bakat sepakbola Dallas lebih besar dari talenta perkayuannya. Setelah tampil impresif sebagai winger Coagh, ia direkrut Crusaders FC yang berlaga di level teratas Irlandia Utara, NIFL Premiership.

“Dia bermain sepabola lebih baik dibanding pekerjaannya sebagai tukang kayu. Ketua Coagh, Brian Dallas memiliki bisnis perkayuan dan menggaet Stuart ke bawah bimbingannya untuk memberinya pekerjaan. Tetapi dia juga berkelakar kalau Stuart sukses menjadi pesepakbola karena dia pasti akan gagal menjadi tukang kayu,” kata Stephen Uprichard, mantan pelatih Coagh kepada BBC.

Bermain untuk Crusaders adalah titik terang bagi karier Dallas. Setelah tampil baik di NIFL Premiership, ia direkrut Brentford yang waktu itu berlaga di League One. Pada 2013/14, ia dipinjamkan selama setengah musim ke Northampton Town yang bertanding di League Two untuk mendapatkan menit bermain. Bermain sebagai winger dan penyerang lubang, Dallas mencetak tiga gol dari 12 pertandingan untuk Northampton.

Dallas kemudian menjadi andalan Brentford, membantu The Bees meraih tiket promosi ke Divisi Championship. Pada 2015/16, ia kemudian direkrut Leeds United yang waktu itu dilatih Uwe Roesler, pelatih Jerman yang dulu mendatangkannya ke Brentford.

Sejak menginjakkan kaki di Crusaders, Dallas telah menginjak trek karier yang benar. Namun, setelah menghabiskan bertahun-tahun di League One dan Championship, siapa sangka jika pemuda yang besar di klub amatir ini bisa mencapai Premier League.

Saat Leeds mencapai promosi di bawah Bielsa, usia Dallas sudah 29 tahun. “Ini [perjalanan karier] gila jika berpikir dari mana saya datang pada sembilan atau 10 tahun lalu,” katanya.

Di Premier League, Dallas pun tak sekadar numpang lewat. Ia menjadi pemain brilian dalam tim yang juga brilian. Dallas berhasil merangkak dari bawah, pelan-pelan, beranjak dari kompetisi amatir Irlandia Utara ke tim bersejarah Inggris yang mencoba bangkit.