Tak Ada Remontada untuk Barcelona

Tak Ada Remontada untuk Barcelona

Tak ada La Remontada untuk Barcelona malam ini, Kamis (11/3) dini hari. Mereka pada akhirnya takluk dari Paris Saint-Germain dengan agregat 5-2. Lionel Messi dan kawan-kawan bermain imbang 1-1 di Parc des Princes. Dan PSG, yang memiliki trauma Remontada 2017 silam, berhasil mempertahankan fokus untuk lolos ke perempat final.

Pada malam tadi, Barca tak mendapat momentum sebagaimana musim 2016/17. Anak asuh Koeman tampil ofensif dan terus-menerus membuat peluang. Tetapi, pertahanan PSG yang disiplin mampu mencegah Blaugrana mendapatkan momentum.

Di lain sisi, kekalahan 1-4 mereka terjadi saat laga kandang. Liga Champions telah menyaksikan selusin lebih tim yang melampaui defisit agregat tiga gol, tetapi tidak ada yang melakukannya di leg tandang. Kali ini, Barca tak berhasil membuat sejarah.

Jelang pertandingan, Ronald Koeman mencoba optimistis dan menegaskan bahwa tak ada yang mustahil; meskipun timnya sudah kalah 1-4 di Camp Nou. Penggawa Barca pun tak perlu jauh-jauh untuk menemukan inspirasi. Sebagian mereka seperti Lionel Messi, Sergio Busquets, dan Jordi Alba terlibat dalam comeback legendaris atas PSG.

Blaugrana mencoba tampil maksimal untuk mengikis defisit. Anak asuh Koeman secara konstan menekan Kylian Mbappe dan kawan-kawan di area lawan. Namun, mereka justru kebobolan lebih dulu via penalti Mbappe. Gol spektakuler Lionel Messi dari sepertiga akhir memberi secercah harapan. Tetapi, aksi-aksi heroik Keylor Navas, termasuk menggagalkan penalti Messi, memaksa tim tamu pulang dengan kepala tunduk. Kendati mencatatkan 73% penguasaan bola dan membuat 21 tembakan (10 di antaranya tepat sasaran), Barca hanya berhasil mencetak satu gol.

Les Parisiens berhasil mencegah terulangnya kemenangan dramatis Barca dan menepis trauma empat tahun silam. Waktu itu, Barcelona melibas PSG 6-1 dan menang agregat setelah tertinggal 4-0 di leg pertama. Peristiwa itu kekal dikenang sebagai La Remontada, secara harfiah berarti ‘kebangkitan’ atau comeback.

Kemenangan tersebut mencetak rekor baru di Liga Champions. Barcelona menjadi tim pertama — dan satu-satunya sejauh ini — yang bisa berbalik menang setelah tertinggal empat gol di laga pertama.

Di lain sisi, yang membuatnya lebih dramatis adalah, Barca mencetak tiga gol pemungkas saat pertandingan tinggal menyisakan sembilan menit (termasuk injury time).

Pertandingan itu abadi dalam memori tiap suporter Barcelona. Segenap anasir klub, mulai Luis Enrique hingga para pemain, terlihat puas. Keberhasilan melampaui defisit empat gol seingar memenangi final. “Olahraga yang hebat ini istimewa. Ia selalu memberi Anda kesempatan membalas,” kata Enrique setelah menang 6-1.

Sebelum laga monumental itu, Enrique memang tak menepis kemungkinan untuk comeback. “Jika sebuah tim bisa mencetak empat gol lawan kami, kami bisa mencetak enam gol lawan mereka,” kata Enrique dalam konferensi pers pralaga. Saat mengatakannya, sang pelatih berupaya membangun optimisme di pihaknya. Namun, hasil akhir mengubahnya lebih baik: kata-kata itu terwujud sebagai nujuman.

Pada 8 Maret 2017, Lionel Messi dan kawan-kawan siap menjalankan misi mustahil. Selisih lebar di skor agregat tak membuat Blaugrana ciut. Kemudian, sebagaimana yang dibutuhkan comeback bersejarah, Barca berhasil mencetak gol cepat. Luis Suarez membuka keunggulan saat pertandingan baru berjalan tiga menit. Jelang babak pertama berakhir, Barca unggul 2-0 via gol bunuh diri Layvin Kurzawa.

Memasuki babak kedua, penalti Lionel Messi semakin membuat Barca di atas angin. Namun, PSG membalas satu gol berkat Edinson Cavani. Gol striker internasional Uruguay itu seolah mengunci pertandingan. Tetapi, skuad Barca nyatanya tak menyerah.

Baca:  Liverpool vs Manchester United: Duel Taktik Menarik Tidak Selalu Menghasilkan Banyak Gol

Pada menit 88, Neymar mencetak gol via tendangan bebas yang melengkung cantik ke pojok gawang Kevin Trapp. Dua menit berselang, wasit memberi penalti kontroversial usai Luis Suarez terjatuh di kotak terlarang. Messi sukses mengonversinya.

Saat injury time memasuki menit kelima, apa yang diharapkan Barca tercapai. Neymar mengirim umpan yang diselesaikan Sergi Roberto sembari menjatuhkan diri. Remontada selesai dan publik Camp Nou bersorak memekakkan telinga.


Kemenangan itu merepresentasikan secara paripurna identitas Barcelona. Kesuksesan klub Katalunya ini dilambari spirit persisten yang mentradisi. Taktik berevolusi, pemain silih berganti datang-pergi, tetapi mental pemenang selalu dibutuhkan untuk membentuk tim elite dan merebut tempat terhormat di buku sejarah.

Ketika menang 6-1, Barca berhasil menciptakan momentum dan kejadian-kejadian sepanjang pertandingan menguntungkan mereka. Gol cepat Suarez memberi tuan rumah sokongan moral sekaligus tekanan bagi tim tamu. Setelah Cavani mencetak gol balasan, momen magis Neymar menyeret Barca kembali ke misi remontada. Sorak puluhan ribu Cules pun memunculkan atmosfer intimidatif bagi Les Parisiens.

Bahkan, keputusan-keputusan wasit Deniz Aytekin cenderung menguntungkan tuan rumah. Keputusan tersebut termasuk hadiah penalti yang menghasilkan gol kelima Barca; juga permintaan penalti PSG atas “pelanggaran” Javier Mascherano terhadap Angel Di Maria yang tak dikabulkan wasit.

PSG pun menanggapi performa Aytekin dengan serius. Les Parisiens mengirim komplain resmi ke UEFA atas keputusan-keputusan wasit asal Jerman itu. PSG mendetail “kesalahan” Aytekin dalam dokumen setebal lima lembar yang dikirimkan ke UEFA.

Tiga tahun setelah kejadian, Unai Emery, pelatih PSG waktu itu, mengomentari kepemimpinan wasit dengan nada pahit. “Kami bertanding dalam dua pertandingan saat 6-1 lawan Barcelona. Satu lawan Barcelona dan satunya lagi lawan Aytekin [wasit]. Dengan VAR, kami tentu akan lolos dari pertemuan tersebut,” kata Emery dikutip Marca, Maret 2020.

Terlepas dari kontroversi wasit, Barca pantas memenangi laga tersebut. Mereka berhasil menciptakan (dan memanfaatkan) momentum. Blaugrana menunjukkan ketahanan psikologis yang menjadi syarat mutlak sebuah remontada.

Meskipun akhirnya kalah dari Juventus di perempat final, Barcelona patut berbangga dengan kiprah mereka di UCL 2017. Blaugrana berandil menciptakan pertandingan monumental yang memperkaya sejarah Liga Champions.

Dua musim setelah 2016/17, Barca pun kembali menorehkan remontada, tetapi di pihak yang kalah. Pada 2017/18, AS Roma yang masih diperkuat Daniele De Rossi bangkit dan mengalahkan Barca 3-0 setelah dipermak 4-1 di leg pertama. Musim 2018/19, giliran Liverpool yang menyingkirkan Barcelona dengan kemenangan 4-0 di Anfield. The Reds menang agregat 4-3 untuk kemudian meraih trofi Liga Champions.

Pada 2019/20, Liga Champions semakin suram bagi Barcelona. Pembantaian 8-2 oleh Bayern Muenchen menandai dekadensi klub yang dilanda krisis. Perubahan besar-besaran pun dilakukan klub musim ini.

Ronald Koeman dan manajemen baru diharap merestorasi kejayaan Barca. Klub sedang dalam fase transisi, mengembangkan pemain muda seperti Ansu Fati, Pedri, serta Ilaix Moriba untuk menyongsong era baru.

Kendati akhirnya kalah oleh PSG, Koeman pulang dengan catatan positif. “Kami tereliminasi, tetapi kami pulang dengan perasaan baik,” katanya seusai pertandingan. Ia menegaskan, dengan perkembangan yang ditunjukkan tim, proyek jangka panjang Barcelona ada di jalur yang benar.