Spursy: Tentang Tottenham Hotspur yang Konsisten Berjalan dengan Kegagalan

Spursy: Tentang Tottenham Hotspur yang Konsisten Berjalan dengan Kegagalan

Seiring performa dan kejadian-kejadian yang memiliki keterkaitan tertentu, setiap klub menabalkan stereotipe kepada diri mereka. Hasil selalu berkelindan dengan reputasi. Satu memperburuk yang lain, dan sebaliknya. Bagi Tottenham Hotspur, reputasi yang didapat tiga dekade belakangan cukup menjengkelkan.

Spurs dikenal sebagai tim yang konsisten menemui kegagalan. Gagal memenuhi ekspektasi dan tersungkur ketika prestasi sudah di depan mata. Kegagalan konsisten Tottenham bahkan membuat satu kata sifat dicetuskan untuk mendeskripsikan mereka: Spursy.

Istilah tersebut sudah lama dikenal dalam kosakata sepakbola Inggris. Sebuah kata, meskipun slang dan merupakan ejekan, mencerminkan keadaan yang dipahami atau anggapan umum dalam suatu masyarakat. Dan ejekan Spursy identik dengan kekalahan-kekalahan mengejutkan yang melambari kegagalan Tottenham Hotspur.

Contoh kasus tepat untuk memahami Spursy terjadi dini hari tadi, Jumat (19/3/2021) waktu Indonesia. Melakoni leg kedua 16 Besar Europa League di Stadion Maksimir, Kroasia, Spurs kena comeback dari Dinamo Zagreb. Harry Kane dan kawan-kawan kalah agregat 3-2 via babak tambahan waktu.

Anak asuh Jose Mourinho gagal memanfaatkan keunggulan 2-0 di leg pertama. Miroslav Orsic, seorang penyerang dengan nomor punggung unik, 99, melibas Spurs dengan hat-trick. Striker yang pernah merantau ke Asia membela Jeonnam Dragons, Changchun Yatai, dan Ulsan Hyundai itu menjadi pahlawan kemenangan Dinamo Zagreb.

Kekalahan tersebut amat miris. Bukan hanya karena Spurs gagal mempertahankan agregat dan terjungkal dengan memeluk status tim unggulan; tetapi juga karena Dinamo Zagreb sedang diterpa masalah internal. Zoran Mamic, pelatih kepala kampiun Liga Kroasia itu mundur hanya empat hari sebelum pertandingan. Ia diputus bersalah atas kasus korupsi dan dihukum empat tahun dan sebelas bulan penjara.

Meski demikian, skuad Dinamo tak berkecil hati dan menghadapi Tottenham dengan berani. Setelah pertandingan, Jose Mourinho pun mencerca sikap para pemain Spurs serta memuji usaha keras Dominik Livakovic dan kawan-kawan.

“Sepakbola tidak hanya tentang para pemain yang berpikir bahwa mereka lebih berkualitas dari yang lain, dasar-dasar sepakbola jauh melebihi itu. Dasar sepakbola adalah sikap dan mereka mengalahkan kami dalam hal itu,” kata eks manajer Chelsea tersebut.

“Sebelum pertandingan saya berkata ke para pemain risiko dari sikap buruk. Saya berkata saat jeda pertandingan risiko dari cara bermain yang kami lakukan, dan [kekalahan] itu terjadi karena saya yakin para pemain baru menyadari bahwa pertandingan ini terancam saat mereka mencetak gol kedua,” lanjutnya.

Mourinho tentu kesal. Tetapi, sebagaimana para pemain, ia adalah bagian dari kekalahan ini. Pelatih yang pernah membawa Inter Milan meraih treble bersejarah itu tak bisa terus-terusan menyalahkan pemain, seperti yang dilakukannya di Manchester United. Sebagai manajer, Mourinho turut bertanggung jawab dalam pembangunan kultur klub dan ia semestinya punya andil menghentikan “kultur” Spursy.

Spurs Menjadi Spursy, Mau Sampai Kapan?

Mauricio Pochettino pernah membawa perubahan menjanjikan di Spurs. Puncaknya adalah partisipasi pertama klub di final Liga Champions. Keberhasilan itu diwarnai comeback menakjubkan atas Ajax Amsterdam di semifinal. Pochettino juga berhasil membawa Spurs menjadi runner-up Premier League 2016/17 setelah finis di peringkat tiga pada musim sebelumnya.

Baca:  Gelandang Unggulan FPL PanditFootball: Gameweek 27

Akan tetapi, era Pochettino di Spurs berakhir pahit dan tanpa trofi. Klub ini belum meraih gelar juara sejak Juande Ramos membawa Robbie Keane dan kawan-kawan menyabet titel Piala Liga 2008.


Meski tanpa gelar, kerja Pochettino tidak bisa dikatakan gagal. Ia membawa Spurs ke level baru, konsisten menantang papan atas. Pelatih asal Argentina itu mencatatkan 1,84 poin per pertandingan selama menukangi Spurs, lebih baik dari para pendahulunya di era Premier League dan Jose Mourinho.

Walaupun Pochettino membawa klub ke level selanjutnya, Tottenham nyatanya tak pernah lepas dari ejekan Spursy. Klub besar selalu menghalangi mereka dari trofi. Liverpool mengempaskan mimpi-mimpi Spurs di final UCL; Chelsea, Manchester United, dan Arsenal bergantian mengeliminasi Spurs dari piala domestik. Selain itu, kekalahan mengejutkan seperti lawan KAA Gent (Europa League 2016/17), Colchester United (Piala Liga 2019/20), dan Norwich City (Piala FA 2019/20) menebalkan label Spursy yang ingin dienyahkan tim.

Setiap tim pernah gagal, kalah memalukan, dan menjalani tahun-tahun tanpa gelar. Namun, dalam kasus Spurs, orang-orang ingin mengunci takdir mereka sebagai tim yang selalu gagal. Selama Tottenham belum menjadi kekuatan sepakbola yang berarti, ejekan Spursy akan selalu melekat kepada diri mereka.

Tottenham kini klub elite. Tetapi mereka masih dihubungkan dengan Tottenham yang kalah di semifinal Piala FA 2010 lawan Portsmouth; sebuah tim yang diambang kebangkrutan dan terdegradasi dengan pundi-pundi 19 poin.

Sir Alex Ferguson, manajer legendaris Setan Merah, bahkan pernah memanfaatkan reputasi Spurs untuk mengangkat semangat tanding anak asuhnya. “Kawan, ini Tottenham”, demikian katanya sebelum menghadapi Spurs.

Sir Alex memahami skuadnya dan tahu persepsi mereka atas Tottenham. Ia berupaya menegaskan bahwa rival Arsenal itu ditakdirkan untuk kalah. Maka, tak ada alasan bagi Setan Merah untuk menyerah saat tertinggal. Sir Alex pernah memimpin MU menang comeback 3-5 setelah tertinggal 3-0 di White Hart Lane.

Tottenham boleh punya skuad elite dan manajer pilih tanding, tetapi kesadaran orang-orang yang memunculkan istilah Spursy akan selalu membayangi. Sehebat apa pun Harry Kane, secantik apa pun permainan Son Heung-min; sepanjang Tottenham belum memenangkan sesuatu, mereka akan selalu dihubungkan dengan Tottenham yang, meminjam istilah Gary Neville, “tak bertulang dan lembek”.

“Kawan, ini Tottenham.” Team-talk Sir Alex itu menunjukkan dengan tepat apa itu Spursy; sesuatu yang berusaha dienyahkan klub lewat perkembangan bertahun-tahun dan performa di kompetisi.

Jose Mourinho kini mewarisi estafet untuk mengubah Spurs menjadi kekuatan berarti. Untuk mengikis stereotipe, ia wajib membawa Tottenham ke papan atas. Juga, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah meraih trofi. Spurs berpeluang meraih trofi pertama setelah 13 tahun di Piala Liga. Mereka akan menghadapi Manchester City di final pada 25 April mendatang.

Keberhasilan meraih trofi, meskipun Piala Liga, adalah awal yang baik untuk menghilangkan istilah Spursy selamanya. “Kawan, ini Tottenham.” Mereka pun bisa membelokkan makna frasa Fergie itu dan mengucapkannya dengan bangga.

Untuk memperbaiki reputasi dan mewujudkan proyek Spurs, tantangan ada pada Mourinho dan anak asuhnya.