Roy Keane: Si Pemarah dari Irlandia

Roy Keane: Si Pemarah dari Irlandia

Oleh: Willy Febriandy

Roy Keane telah lama dikenal sebagai pemain sepak bola yang tangguh, mudah marah dan selalu vokal ketika berbicara. Keane tak segan-segan mengutuk dan mengkritik siapa pun yang dianggapnya bermasalah. Bahkan, kepada pemain Manchester United (MU) yang sejatinya adalah klub yang membesarkannya, Keane tak pernah ragu mengatakan apa yang tepat untuknya. Karakter seperti itu telah menjadi ciri yang membangun citra Roy Keane selama bertahun-tahun.

Sifat sulit ini berlanjut hingga dia berhenti menjadi pemain sepak bola. Beberapa waktu lalu, saat Roy Keane dan Patrice Evra menjadi reviewer laga antara Tottenham Hotspurs melawan United, di Liga Inggris yang sedang berlangsung, karakter tangguh Roy Keane kembali hadir. Keane mengecam keras penampilan dua bintang MU, David De Gea dan Harry Maguire. Menurut Keane, keduanya tidak menunjukkan kualitas sebagai pemain top dunia. Ia sangat terkejut melihat pemain sekaliber Maguire yang dengan mudah dilintasi Steven Bergwijn.

Saya sangat marah, kata Keane, "Maguire dan De Gea harus gantung diri karena mereka memalukan. Jangan pulang dengan tim di bus. Naik taksi ke Manchester. Saya muak dengan penampilan mereka. "

VIDEO: Informasi terbaru tentang sepakbola dunia

Lawan seperti di atas bukanlah kali pertama Roy Keane berbicara dengan pemain MU. Jauh sebelum mengecam De Gea dan Maguire, Keane kerap menyerang pemain MU lain yang dinilai tidak berfungsi maksimal. Keane pernah menuding pemain MU lemah dan curang. Dia juga menyebut Paul Pogba sebagai pemain yang tidak konsisten.

Jika dirunut, kebiasaan mengumpat Keane sudah dipraktikkan sejak dia pensiun dan menjadi reviewer seperti sekarang. Sir Alex Ferguson dalam otobiografinya yang berjudul Otobiografi saya (2013), menceritakan bahwa semasa Keane masih bermain untuk MU, ia pernah melontarkan komentar pedas terhadap beberapa pemain yang menurutnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam sebuah wawancara untuk MUTV, misalnya, Keane menyebut Kieran Richardson sebagai bek yang malas. Keane juga mengejek Darren Fletcher dengan berkata, "Mengapa orang Skotlandia menyukai Darren Fletcher?" Bahkan pemain sekaliber Rio Ferdinand menjadi bahan kritik dalam wawancara tersebut.

Menurut Sir Alex, bagian paling tajam dari tubuh Roy Keane adalah lidahnya. Lidahnya setajam yang bisa Anda bayangkan. Dia bisa melemahkan orang paling percaya diri di dunia dalam hitungan detik dengan ketajaman itu. Tak heran jika di MU Keane disebut-sebut sebagai sosok yang paling ditakuti setelah Sir Alex Ferguson.

Kebiasaan Roy Keane mengumpat pemain lain adalah contoh dari karakter kasar dan pemarah pria Irlandia kelahiran 10 Agustus 1971 ini. Pidato yang tak asing lagi di telinga Sir Alex Ferguson – pun mengakui hal tersebut. Menurutnya, jika Roy Keane berpikir Anda tidak mencoba apa yang dia harapkan, dia akan segera menjagamu. Banyak pemain dimarahi karena melakukan itu dan tidak ada tempat untuk bersembunyi darinya.

Keane adalah individu yang galak dan cenderung mengintimidasi. Jika marah, dia bisa menyerang. Meski begitu, bagi Fergie, Keane adalah pemain dengan energi, keberanian, dan darah panas, dengan insting tertarik pada sepak bola dan strategi. Keane adalah pemain paling berpengaruh di ruang ganti United saat bersama Fergie.

Gerard Pique adalah salah satu pemain yang pernah diintimidasi langsung oleh Keane. Dalam sebuah wawancara, Pique menceritakan bahwa saat dirinya masih berseragam MU, pada suatu saat ketika berada di ruang ganti sebelum pertandingan, tiba-tiba ponselnya bergetar dan mengeluarkan suara. Keane, yang mendengar suara itu, mencari sumber suaranya, tetapi tidak dapat menemukannya.

Keane kemudian berteriak pada semua orang, "Ponsel siapa itu?" Tidak ada yang menjawab. Dia bertanya lagi dan tetap tidak ada yang menjawab. Dia kemudian mengutuk dan Pique akhirnya mengakui itu adalah ponselnya. Keane segera meledak dan mencakar di depan semua orang. Dia sangat ketakutan, menurut Pique, hingga dia hampir memakai celana saat itu.

Baca:  Link Live Streaming Copa Libertadores 2020

Itu Roy Keane. Jika ada yang tidak beres di matanya, dia akan meledak tanpa ragu-ragu. Bahkan seorang manajer yang galak seperti Sir Alex berani melawannya jika dia benar-benar berpikir dia telah melakukan sesuatu yang salah di matanya.


Karakter tangguh Roy Keane pun dibawa ke lapangan hijau. Keane adalah tipe pemain yang akan memukul siapa pun yang menurutnya akan mengancam pertahanan. Posisinya sebagai gelandang bertahan membuatnya leluasa melakukan segalanya. Keane menyadari bahwa cara bermain ini akan mempengaruhi dirinya, yang tentunya harus bertabrakan dengan pemain musuh. Tabrakan ini terkadang menyebabkan dia bertabrakan dengan musuh yang tidak terima dengan cara bermainnya.

Dalam kamus kehidupan Roy Keane, tidak pernah ada kata-kata ketakutan dan gentar atas sesuatu yang dianggapnya tugasnya. Ia tak segan-segan bertarung dengan siapa pun untuk menjaga gawangnya keluar dari lubang. Bentrokan dengan legenda Arsenal Patrick Vieira adalah contoh konsekuensi dari permainannya yang sulit dan tanpa kompromi.

Karakter Roy Keane yang tangguh, mudah tersinggung, dan tidak kenal kompromi akhirnya membawa dampak yang akan selalu dikenang dalam karir sepak bolanya. Di pertandingan derby Manchester Pada tahun 2001, Keane secara brutal memukul lutut Alf-Inge Haaland sampai dia jatuh dan ditarik keluar karena cedera. Keane mengaku sengaja melakukannya sebagai bentuk balas dendam atas perlakuan Haaland empat tahun sebelumnya, tepatnya pada September 1997, saat United bertemu Leeds United.

Dalam pertandingan tersebut, Haaland menuding Keane mengalami cedera saat keduanya berebut bola. Nyatanya, Roy Keane mengalami cedera dan tidak akan bermain lagi musim ini. Karena itu, Keane memiliki dendam, hingga akhirnya ia membalas dendam pada ayah Erling Haaland di pertandingan tersebut. derby Manchester.

Roy Keane langsung tahu bahwa apa yang dilakukannya akan berakibat fatal bagi karier Haaland. Tapi dia sama sekali tidak menyesalinya. Dalam otobiografinya yang berjudul Roy Keane: Babak Kedua (2014), Keane secara terbuka mengakui bahwa dia sengaja memukul kaki Haaland dan tidak menyesal melakukannya. "Ada sejumlah penyesalan dalam hidup saya. Tapi insiden dengan Haaland bukanlah miliknya," kata Roy Keane. Bagi Keane, apa yang dia lakukan sepadan dengan apa yang telah dilakukan Haaland padanya empat tahun sebelumnya.

Dari hal tersebut, terlihat bahwa meski berjaya menjaga lini tengah Manchester United, Roy Keane memiliki sisi lain yang menjadikannya seperti sekarang ini. Kasar, pemarah, dan tanpa kompromi, itulah identitas yang membentuk Roy Keane sepanjang kariernya di sepakbola. Tanpa ketiga hal tersebut, nama Roy Keane hanya akan dikenal sebagai gelandang bertahan tim tersukses Inggris. Tidak lagi.

Uniknya, ketiga karakter Roy Keane inilah yang membuatnya dikeluarkan dari skuad MU. Sir Alex dalam otobiografinya menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa Roy Keane meninggalkan United adalah karena pengaruh Roy Keane yang berlebihan di ruang ganti. Hal ini berbahaya bagi perkembangan pemain muda MU yang baru saja dipromosikan atau direkrut. Karena dengan karakternya yang tangguh, Keane mampu menghancurkan mental para pemain muda yang sedang dalam proses perkembangan. Dari situlah akhirnya Roy Keane dilepasliarkan ke Glasgow Celtic pada 2005.

Terlepas dari semua kontroversi dan perilaku yang dianggap buruk oleh kebanyakan orang, Roy Keane tetap menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di tanah Inggris. Dia akan selamanya menjadi legenda yang akan selalu dikenang bukan hanya oleh fans MU, tapi juga oleh semua fans sepakbola dimanapun.


* Penulisnya adalah WillyVebriandy, seorang penggemar Manchester United yang saat ini tinggal di Sleman. Tersedia di @willyvebriandy (Twitter), @willyvebriandy (Instagram), dan @Willy Vebriandy (Facebook).

** Makalah ini adalah presentasi penulis melalui kolom Pandit Sharing. Semua konten dan opini yang terkandung dalam makalah ini adalah tanggung jawab penulis.