Porto Menang, Meski Akhirnya Kebobolan

Porto Menang, Meski Akhirnya Kebobolan

Porto sukses memberi kejutan pada laga 16 besar Champions League leg pertama. Menjamu Juventus di Estadio do Dragao, Porto menang 2-1 dalam laga yang digelar Kamis (18/2) dini hari waktu Indonesia. Kemenangan ini sangat berarti bagi Porto meski mereka akhirnya kebobolan.

Porto mencetak dua gol pada awal masing-masing babak. Pertandingan baru memasuki menit kedua, Rodrigo Bentancur melakukan back pass yang tidak terduga oleh Wojciech Szczesny dan terlalu lemah. Mehdi Taremi sukses menghalangi sapuan Szczesny sehingga bola berbalik arah ke gawang Juventus. Menit ke-46, Moussa Marega berhasil menyelinap ke dalam kotak penalti Bianconeri dan menyelesaikan serangan dari jarak dekat.

Juventus baru bisa mencetak gol pada menit ke-82. Umpan silang Adrien Rabiot berhasil dimaksimalkan oleh Federico Chiesa. Skor berakhir 2-1, Porto tetap menang, namun rekor positif anak asuh Sergio Conceicao sedikit tercoreng. Terakhir Porto kebobolan di Champions League adalah pada laga pembuka fase grup di Etihad Stadium. Man City sukses menghajar Porto dengan skor 3-1.

Porto mampu mencatatkan nirbobol pada lima laga sisa di fase grup. Pertahanan kuat menjadi salah satu faktor mereka bisa finis di bawah Man City dengan 13 poin. Sayangnya catatan apik pertahanan Porto terhenti karena gol Chiesa.

Meski begitu, pertahanan Porto pada laga melawan Juventus tetap patut diacungi jempol. Mereka bisa meredam serangan Juventus dengan baik. Jika melihat angka expected goals, Juventus hanya mencatatkan xG sebesar 0,8. Sementara Porto mencatatkan angka dua kali lipat lebih, yaitu 1,62.

Conceicao menurunkan formasi 4-4-2 pada laga melawan Juventus ini. Porto dominan bermain dengan blok rendah, namun ketika memungkinkan mereka naik dan bermain high pressing. Terlihat dari gol Taremi di bawah ini.

Ketika Juventus masuk ke daerah pertahanan Porto, mereka bermain dengan defensive shape rapat dan blok rendah, namun tetap menjaga kelebaran jika terdapat penyerang sayap Juventus yang tersedia sebagai opsi umpan. Tujuannya adalah untuk menutup ruang di sayap sehingga penyerang sayap Juventus tidak bisa diakses.


Baca:  Penyerang Unggulan FPL PanditFootball: Gameweek 18

Area tengah Porto juga sulit ditembus. Dua gelandang mereka yaitu Mateus Uribe dan Sergio Oliveira tampil impresif. Uribe mencatatkan dua tekel dan Oliveira mencatatkan tiga tekel. Belum lagi terdapat Pepe sebagai bek tengah yang sulit dilewati. Fisik dan kemampuan membaca permainan yang baik juga membuat Pepe unggul atas penyerang Juventus.

Meski terdapat beberapa pemain yang mencuri perhatian lebih, namun pertahanan kokoh dari Porto merupakan hasil kolektivitas tim. Kedisiplinan dan determinasi menjadi faktor utama. Juventus hanya mencatatkan 12 tembakan, lima di antaranya dari luar kotak penalti. Dari tujuh tembakan di dalam kotak penalti, tiga di antaranya berasal dari bola mati. Artinya, Porto mampu menahan Juventus dengan baik pada situasi open play.

Secara formasi, Porto sebenarnya fleksibel. Pada lima laga ketika mereka mencatatkan nirbobol di fase grup, Porto tidak selalu bermain dengan formasi 4-4-2. Dilansir dari Whoscored, Porto bermain dengan formasi 4-4-2 hanya pada dua pertandingan melawan Marseille. Menghadapi Olympiacos, Porto turun dengan formasi 4-2-3-1 dan 4-3-3. Menjamu Man City, Conceicao menerapkan formasi 5-3-2.

Tidak hanya formasi, gaya pressing Porto juga cukup fleksibel. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Porto beberapa kali melakukan high pressing pada situasi tertentu. Beberapa di antaranya berhasil merebut bola dari Juventus dan berbuah peluang.

Kemenangan pada leg pertama ini menjadi modal berharga bagi Porto. Meski mereka kebobolan gol tandang, Porto bukan tidak mungkin bisa lolos dan membuat Juventus kembali terhenti di fase 16 besar. Musim lalu Juventus disingkirkan Lyon di fase yang sama. Pertahanan kuat akan kembali menjadi modal utama Porto dalam menghadapi Si Nyonya Tua pada leg kedua yang akan digelar pada Rabu (10/3) dini hari waktu Indonesia mendatang.