Pellegrino Matarazzo: Otak di Balik Permainan Ofensif Stuttgart

Pellegrino Matarazzo: Otak di Balik Permainan Ofensif Stuttgart

VfB Stuttgart mencuri perhatian di Bundesliga 2020/21. Promosi dengan status runner-up 2. Bundesliga — hanya berjarak tiga poin dari peringkat ketiga, FC Heidenheim — die Schwaben justru mampu bersaing di 10 besar. Stuttgart berada di peringkat delapan hingga Spieltag 25, jauh lebih baik dibanding kampiun Bundesliga 2, Arminia Bielefeld yang terseok di papan bawah.

Stuttgart memanglah klub besar. Namun, setelah terperosok ke divisi kedua, besarnya daya saing mereka musim ini tentu mengejutkan. Meskipun berstatus tim promosi, Stuttgart berani tampil menyerang dan meraih sembilan kemenangan sejauh ini. Die Schwaben pun hanya berjarak empat poin dari batas kualifikasi zona Eropa yang kini ditempati Bayer Leverkusen.

Keberhasilan Stuttgart tak bisa dilepaskan dari peran sang juru taktik, Pellegrino Matarazzo. Pelatih berkebangsaan Amerika Serikat ini menukangi Stuttgart sejak akhir 2019. Matarazzo menggantikan Tim Walter yang didepak usai menelan serangkaian hasil inkonsisten.

Penunjukkan Matarazzo sendiri adalah langkah berisiko yang ditempuh manajemen klub waktu itu. Pasalnya, pelatih berdarah Italia tersebut belum pernah menangani tim utama klub profesional. Portofolionya sebelum Stuttgart adalah menjadi asisten pelatih, pelatih tim muda, serta pelatih tim cadangan.

Risiko yang ditempuh pun berbuah manis. Matarazzo berhasil mengangkat performa Stuttgart dan mengunci promosi otomatis.

Keberadaan Matarazzo sendiri termasuk fenomena unik di sepakbola Eropa. Setelah David Wagner didepak Schalke 04, ia menjadi satu-satunya pelatih Amerika Serikat di lima liga top Eropa. Tak seperti Wagner, Matarazzo menikmati karier yang relatif sukses seperti kompatriotnya, Jesse March di RB Salzburg.

Pelatih Amerika Rasa Jerman

Kendati sepakbola tak begitu populer di Amerika, Matarazzo menyukai olahraga ini sejak kecil. Pasalnya, keluarganya berdarah Italia dan menggemari SSC Napoli. Orang tuanya adalah keturunan imigran yang pergi dari Italia selatan ke New Jersey pada 1960-an.

Bakat sepakbola membantu Matarazzo di bidang pendidikan. Prestasi olahraga memuluskan jalannya menajadi mahasiswa Columbia University. Pria kelahiran 1977 ini mengambil studi matematika terapan di universitas tersebut. Matarazzo juga sempat membela tim sepakbola universitas, Columbia Lions sebelum lulus pada 1999.

Meskipun mengantongi gelar matematika terapan, Matarazzo pilih merantau jadi pesepakbola. Ia hijrah ke Jerman pada 2000 saat usianya masih 22 tahun. Matarazzo memang berkewarganegaraan AS, tetapi ia tumbuh dan berkembang sebagai pelatih dalam koridor sepakbola Jerman

Pada 2000-an, Matarazzo bermain untuk klub-klub semi-profesional di divisi bawah. Kariernya sebagai pemain berawal di Eintracht Bad Kreuznach. Ia sempat membela SV Wehen dan Preussen-Muenster sebelum pensiun di tim cadangan FC Nuernberg.

Karier amatir sebagai pemain tak menghalanginya untuk terus berproses di sepakbola. Ia mengawali karier kepelatihan sebagai asisten FC Nuernberg II dan sempat menjabat pelatih interim pada 2011. Matarazzo kemudian diserahi tanggung jawab melatih tim U-17 dan U-19 Nuernberg.

Pada 2015, ia belajar di Akademi Hennes Weisweiler untuk memperoleh lisensi pro. Di sini ia bertemu dengan Julian Nagelsmann. Mereka berteman akrab dan menempati kamar yang sama.

Matarazzo dan Nagelsmann berkolaborasi sebagai pelatih dan asisten pelatih di TSG Hoffenheim pada 2018-2019. Mereka membawa die Kraichgauer finis di peringkat tiga Bundesliga 2017/18. Kini keduanya menjadi rival di Bundesliga, beradu taktik jika Stuttgart bersua RB Leipzig.

Permainan Ofensif yang Mengandalkan Pemain Muda

Pellegrino Matarazzo sukses membina skuad muda yang menjadi tulang punggung klub sejak musim lalu. Rata-rata usia pemain Stuttgart (24,3) adalah yang termuda di Bundesliga 2020/21. Pemain seperti Sasa Kaladjzic, Nicolas Gonzalez, Silas Wamangituka, Orel Mangala, dan Wataru Endo telah menyertai die Schawben sejak berjuang di Bundesliga 2.

Dengan skuad muda, Matarazzo meracik sepakbola ofensif. Ia sering menurunkan pakem 3-4-2-1 dengan dua gelandang serang menyokong Sasa Kalajdzic. Pendekatan Matarazzo pun disesuaikan dengan permainan lawan, apakah mereka bertahan dengan blok rapat atau cenderung melakukan pressing agresif.

Baca:  Daniel Caligiuri, Harapan Augsburg Putus Rekor Buruk Atas Leverkusen


Lawan siapa pun, anak asuh Matarazzo akan bermain ofensif dan membuat sebanyak mungkin peluang. Stuttgart adalah tim dengan rata-rata tembakan per pertandingan (14,04) terbanyak keempat di Bundesliga 2020/21. Mereka telah mencetak 47 gol, hanya kalah dari Eintracht Frankfurt (48), RB Leipzig (48), Borussia Dortmund (52), dan Bayern Muenchen (74).

Stuttgart tak melandaskan sepakbola menyerangnya kepada penguasaan bola. Die Schwaben cenderung langsung (direct) dalam melancarkan serangan, tanpa banyak melakukan sirkulasi. Mereka rata-rata mencatatkan 50,2% penguasaan bola per pertandingan dan memiliki frekuensi operan yang tidak terlalu banyak (nomor sembilan di Bundesliga).

Nicolas Gonzalez dan kawan-kawan memiliki rasio umpan kunci berbanding total operan tertinggi, 2,11%; 264 umpan berbuah tembakan dari 12.480 operan. Statistik ini menunjukkan tingkat urgensi serangan Stuttgart. Berupaya sesegera mungkin membuka ruang tembak ketika menguasai bola.

Sebagian besar serangan Stuttgart dilancarkan lewat kedua sayap. Di pos ini, Matarazzo memanfaatkan dua wing-back yang menjadi mesin serangan cepat. Silas Wamangituka mengokupasi sisi kanan. Sedangkan di sisi kiri, pelatih berdarah Italia tersebut biasa memasang Borna Sosa.

Di sisi kanan, profil permainan Silas Wamangituka cukup unik. Meskipun di atas kertas turun sebagai wing-back, pemain asal Kongo ini cenderung berperan sebagai winger. Posisi naturalnya sebelum hijrah ke Jerman adalah striker.

Kini, ia berhasil mentransformasikan bakat alami sebagai striker untuk memenuhi permintaan Matarazzo. Sebagai wing-back Stuttgart, alih-alih melakukan overlap untuk mendukung dari sayap, Wamangituka justru lebih kerap melakukan underlap dan menusuk ke dalam kotak penalti. Eks pemain Paris FC ini pun menjadi top skor kedua die Schwaben di Bundesliga, mengemas 11 gol dan empat asis.

Sementara rekan Wamangituka, Borna Sosa cenderung menjaga kelebaran di kiri. Bek asal Kroasia ini juga bertugas sebagai penyedia umpan silang. Stuttgart sendiri memiliki striker jangkung setinggi dua meter yang cakap mengeksekusi bola atas, Sasa Kaladjzic.

Kalajdzic telah mencetak 13 gol sejauh ini dan enam di antaranya melalui sundulan. Penyerang asal Austria tersebut selalu mencetak gol di tujuh pertandingan terkini Bundesliga. Jelang menghadapi Bayern Muenchen di Spieltag 26, Kalajdzic berpeluang menjadi pemain pertama Stuttgart yang mencetak gol dalam delapan pertandingan beruntun.

Selain Wamangituka dan Kalajdzic, Stuttgart memiliki segudang pemain muda yang tampil apik di Bundesliga. Sebanyak 10 penggawa die Schwaben yang bermain reguler musim ini berusia 23 tahun ke bawah.

“Dia [Matarazzo] tahu bagaimana mengucapkan kata-kata yang tepat di waktu yang tepat, yang mana penting bagi tim semuda ini. Dia tidak kelewatan dengan taktik, dia membuatnya simpel bagi kami,” kata gelandang veteran Stuttgart, Gonzalo Castro, memuji manajemen Matarazzo.

Tidak hanya mencapai sederet hasil positif, pelatih yang mengidolakan Diego Maradona itu berhasil mengembangkan kapasitas pemain mudanya. Permainan Tanguy Coulibaly dan kawan-kawan semakin matang, baik secara teknik maupun mental.

“Hanya bagus secara taktis atau bagus di hubungan antarmanusia tidaklah cukup. Anda harus bisa melakukan keduanya. Saya juga ingin membantu para pemain secara pribadi dan memberi mereka ruang untuk berkembang,” kata Matarazzo kepada 11 Freunde.

Sebagaimana skuadnya, Matarazzo sendiri masihlah pelatih muda. Capaian positif bersama Stuttgart pun barulah awal kariernya. Dua dekade lebih di sepakbola Jerman, Matarazzo mengenal banyak juru taktik kawakan seperti Gerjan Verbeek, Dieter Hecking, Pep Guardiola, hingga Juergen Klopp dan terinspirasi dari mereka. Tetapi, ia menegaskan bahwa, dalam pekembangannya, Matarazzo ingin menjadi autentik dan bersaing dengan identitasnya sendiri.

“Bagi saya, perjalan itu ke dalam [diri]. Jika saya menawarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan saya, saya tidak akan berhasil. Saya tidak akan pernah menjadi Klopp atau Guardiola, hanya Pellegrino Matarazzo,” ucapnya.