Mengapresiasi Karim Benzema: Penyelamat Real Madrid di Tengah Tumpulnya Lini Serang

Mengapresiasi Karim Benzema: Penyelamat Real Madrid di Tengah Tumpulnya Lini Serang

Karim Benzema kembali mencetak gol saat Real Madrid menyingkirkan Atalanta dari fase gugur Liga Champions, Rabu (17/3/2021) dini hari waktu Indonesia. Penyerang berkebangsaan Perancis itu mencetak gol pembuka dalam kemenangan 3-1 Los Blancos. Anak asuh Zinedine Zidane pun lolos dengan agregat meyakinkan 4-1.

Gol tersebut sekaligus mengatrol nama Benzema di jajaran top skor sepanjang masa UEFA Champions League. Ia menjadi pemain kelima yang mampu menembus gap 70 gol di ajang bergengsi tersebut. Hanya empat pemain yang mencetak gol lebih banyak dari Benzema, yaitu Raul (71), Robert Lewandowski (74), Lionel Messi (120), serta eks rekannya, Cristiano Ronaldo (134).

Capaian itu menggarisbawahi kemampuan Benzema sebagai penyerang elite Eropa. Di Real Madrid, daya prolifik eks Olympique Lyon ini selalu dibayang-bayangi Crisitano Ronaldo. Sepeninggal CR7, Benzema pun menjadi juru gedor utama Los Blancos dan reliabel untuk mencetak gol.

Belakangan, Benzema juga menjadi pahlawan Madrid saat tertinggal di La Liga. Ia mencetak gol penyeimbang dalam Derbi Madrid dan memborong dua gol saat timnya tertinggal dari Elche, 13 Maret silam.

Pada era pasca-Ronaldo, catatan gol Benzema amat kontras dari rekan-rekannya, terutama pada 2020/21. Ia selalu menjadi top skor klub dalam tiga musim terakhir dan bahkan menyumbang hampir sepertiga gol Madrid di La Liga 2020/21.

Catatan ini menunjukkan dua hal, yaitu hebatnya kemampuan mencetak gol Benzema dan, yang perlu dikhawatirkan Zidane, tumpulnya penyelesaian lini serang Madrid.

Tiga tahun silam, Madrid memiliki trisula elite dalam diri Ronaldo, Benzema, serta Gareth Bale. Kini, menyusul dipinjamkannya Bale ke Tottenham, tinggal Benzema yang tersisa. Eden Hazard, yang digadang-gadang menambah daya gedor Madrid, terus-menerus dihalangi cedera. Sedangkan dua bakat muda El Real, Vinicius Junior dan Rodrygo, masih butuh waktu untuk tampil efektif.

Dalam hal kreasi serangan, Madrid sebenarnya tidaklah buruk. Zidane dibekali penyerang sayap yang tangkas merusak lini belakang dengan formasi 4-3-3. Madrid pun memiliki dua gelandang elite, Toni Kroos dan Luka Modric, yang masih berdaya mengirim umpan-umpan berbahaya.

Akan tetapi, masalah yang terlihat dari lini serang Madrid adalah penyelesaian. Sejak kepergian Ronaldo, Benzema menjadi top skor klub dengan keunggulan yang cukup jauh dari koleganya. Pada 2018/19, ia mengemas 30 gol di semua kompetisi. Top skor di bawah Benzema adalah Bale (11) yang kini dipinggirkan Zidane. Nomor tiga adalah sang kapten, Sergio Ramos yang mencetak 10 gol, delapan di antaranya melalui titik putih.

Musim lalu, problem pencetak gol Madrid semakin terasa. Top skor nomor dua klub setelah Benzema (27) adalah Sergio Ramos (13), seorang bek yang mendapat tugas eksekusi penalti. Di bawahnya, Rodrygo tampil cukup menjanjikan dengan tujuh gol dari 26 pertandingan.

Baca:  Zlatan Ibrahimovic yang Menolak Tua di Milan

Pada 2020/21, ketergantungan terhadap Benzema juga terlihat jelas. Striker berusia 33 tahun ini mencetak 27 gol Real Madrid. Jauh melampaui rekan-rekannya. Sebagai catatan, top skor kedua Madrid musim ini adalah Casemiro (6), seorang gelandang bertahan. Gelandang internasional Brasil itu kerap mencetak gol via situasi bola mati.

Sementara itu, Vinicius Junior baru mengemas empat gol. Marco Asensio tiga, sedangkan Rodrygo dan penyerang yang didapuk sebagai pelapis Benzema, Mariano Diaz baru mencetak satu gol.


Hal ini kontras dibanding musim terakhir Ronaldo di Spanyol. Pada 2017/18, selain trisula Bale, Benzema, Ronaldo; lini serang Madrid cukup cakap mencetak gol. Waktu itu, Marco Asensio mencetak 11 gol. Isco mengemas sembilan gol dan Lucas Vazquez mencetak delapan.

Problem lini serang ini disadari betul oleh Zidane. Eks pemain Juventus tersebut mendorong rekan-rekan Benzema untuk meningkatkan penyelesaian mereka.

“Yang terpenting adalah membuat peluang. Kami membuat banyak [peluang]. Setiap pemain bisa berkembang dan melampaui data yang mereka catatkan; masing-masing mencetak gol lebih banyak. Saya tidak mencetak banyak gol dengan kemampuan saya [semasa bermain], dan menjadi tujuan bagi saya untuk mencetak lebih banyak gol,” kata sang pelatih dikutip El Pais.

Real Madrid sendiri tidak memiliki masalah berarti dalam hal penciptaan peluang. Di La Liga 2020/21, Los Blancos terhitung sebagai tim elite dalam hal kreasi peluang. Mereka menjadi tim kedua (setelah Barcelona) dengan statistik umpan kunci, umpan ke kotak penalti, dan expected assists (xA) terbanyak.

Akan tetapi, anak asuh Zidane nyatanya terpaut cukup jauh dari sang rival dalam hal mencetak gol. Madrid adalah tim dengan gol terbanyak ketiga di La Liga musim ini. Catatan 46 gol mereka tertinggal dari Atletico Madrid (50) dan Barcelona (61).

Di lain sisi, terlepas dari problem lini serang, publik Santiago Bernabeu mestinya mengapresiasi kiprah Benzema. Meskipun dibayang-bayangi kepopuleran Ronaldo dan Bale, penyerang dengan 81 caps Timnas Perancis ini konsisten menunjukkan tajinya.

Sebagai striker, kontribusi Benzema pun tak sebatas mencetak gol. Ia, seperti no. 9 modern yang lain, terlibat dalam pembangunan serangan. Benzema sering turun dari posisinya dan membuka ruang bagi pemain lain. Ia telah mengemas lima asis sejauh ini. Statistik umpan kunci per pertandingannya juga terbaik kelima di antara penggawa Madrid yang bermain reguler.

Orang boleh menyorot kehidupan mewah, perilakunya atas Vinicius, atau skandal pemerasan terhadap Mathieu Valbuena. Tetapi, bagi Benzema, yang terpenting adalah menjaga ketenangan dan berkontribusi atas kebutuhan tim.

“Saya fokus dengan sepakbola saya. Telinga saya entah berada di mana,” tegasnya. Benzema adalah penggawa setia yang menjawab kritik di atas lapangan dan Zidane patut bersyukur akan kehadirannya.