Menanti Babak Baru Derbi Tangerang

Menanti Babak Baru Derbi Tangerang

Kamis, 1 Februari 2001, merupakan hari bersejarah bagi sepak bola Tangerang. Massa berbondong-bondong ke Fortress Stadium, memenuhi stadion dengan warna kuning dan ungu. Hari itu, derby Tangerang pertama antara Persikota vs Persita di kompetisi resmi digelar. Pertandingan bersejarah itu berakhir dengan skor 0-0. Dua rival sekota berbagi angka di derby utama.

Tangerang mungkin hanya kota satelit, tapi minat sepak bola di daerah penyangga Jakarta tak bisa dianggap remeh. Pada masa kejayaannya, Tangerang menyumbang dua klub yang aktif di kancah sepak bola nasional.

Persikota dan Persita tidak hanya telat di Divisi Utama. Persikota secara sensasional memenangkan dua promosi berturut-turut, hanya tiga tahun setelah dimulainya, dan mendapatkan "gelar" Wonder Baby. Sementara itu, Persita juga tampak hebat dan hebat tempat kedua Liga Indonesia 2002.

Persikota vs Persita adalah derby muda yang menghiasi Liga Indonesia. Persaingan mereka dimulai dengan berdirinya Persikota pada tahun 1994. Saat itu, pemekaran Kabupaten Tangerang melahirkan perkampungan baru dan Persikota didirikan sebagai tempat penyelenggaraan city football.

Sedangkan Persita adalah adik sulung. Klub dengan julukan Pendekar Cisadane ini berdiri pada 19 April 1940. Secara resmi, Persita baru dikenal oleh PSSI pada 9 September 1953. Tanggal pengakuan tersebut menjadi hari jadi Persita hingga saat ini.

Baca juga: Sensasi Bayi Ajaib

Saat Persikota terbentuk, Persita berhasil meraih promosi ke Divisi Utama setelah sempat terdegradasi pada musim sebelumnya. Para Pendekar Cisadane kemudian tetap pada level tertinggi hingga 1999.

Pada 1997, Persikota bertemu dengan adiknya di Divisi Utama. Namun, derby Tangerang gagal berlangsung di musim pertama Persikota. Pasalnya, Persita bermain di Wilayah Barat, sedangkan Persikota di Wilayah Tengah.

Baby Magic mencuri perhatian di musim debutnya. Persikota mengumpulkan 27 poin dari 15 pertandingan dan berada di urutan ketiga. Sementara Persita juga tampil bagus di Wilayah Barat. Pendekar Cisadane memenangkan 24 poin dari 15 pertandingan, di tempat keempat.

Kedua tim yang berbagi rumah memiliki peluang terbuka untuk lolos pertandingan ulang kejuaraan. Namun pada 25 Mei 1998, Divisi Utama Liga Indonesia dibekukan. Keputusan ini diambil karena adanya kerusuhan sekitar Reformasi 1998.

Semusim kemudian, Persikota dan Persita kembali bermain di berbagai bidang. Kakak tertuanya didrop di penghujung musim, menyebabkan Tangerang Derbi gagal terwujud pada 1999/2000.

Beruntung, Persita hanya butuh satu musim untuk bisa kembali ke puncak. Ditemani tiga legenda hidup klub, yakni Agus Suparman, Ilham Jaya Kesuma, dan Edi John, Laskar Cisadane dipromosikan menjadi juara Divisi I.

Pada musim 2000/2001, Persikota dan Persita ditempatkan di satu wilayah untuk pertama kalinya. Kedua tim saling berhadapan pada 1 Februari dan 17 Juni 2001. Setiap pertandingan berakhir 0-0. Di penghujung musim, Persita berada di depan adik perempuannya. Mereka finis keempat dengan 42 poin, sedangkan Persikota hanya tertinggal satu poin.

Satu musim berselang, Persikota mengukir sejarah dengan menuai kemenangan pertamanya di Derby Tangerang. Bertindak sebagai tim tamu, Baby Magic membungkam Kakak Tua berkat gol Epalla Jordan. Striker asal Kamerun itu menjadi pencetak gol pertama Derby Tangerang.

Baca:  Mengapa Analisis Data di Sepakbola Semakin Penting?

Baca juga: Upaya Membangkitkan Bayi Ajaib

Posisi Epalla Jordan di kompetisi Persita-Persikota sendiri cukup unik. Pemain kelahiran Kamerun tahun 1981 itu menyeberang ke Cisadane Warriors pada tahun 2005. Epalla kemudian kembali ke Persikota pada tahun 2009.

Sejak 2001, Persita dan Persikota selalu berada di satu kawasan. Hal ini membuat kedua tim rutin bertemu dan persaingan semakin memanas. Suasana Derby Tangerang semakin bergengsi dari tahun ke tahun.


Legenda hidup Persikota, Firmansyah mengenang bagaimana suasana persaingan di tahun 2000-an. Seiring berkembangnya masing-masing klub, Persikota vs Persita menjadi derby lokal yang dihadapkan dengan motivasi khusus.

“Itu membuat suasananya [derbi] hawa panas datang dari sejumlah fans dan media. Kami di lapangan juga terpengaruh. Karena kami pasti ingin membuktikan siapa yang jadi juara di Benteng, ”kata Firmansyah.

Di liga, Persikota dan Persita bertemu sebanyak 14 kali hingga 2007. Dari 14 pertemuan tersebut, Baby Ajaib menang sebanyak empat kali. Persita menang tiga kali sementara tujuh pertemuan lainnya mengakhiri seri tersebut. Karena Persikota gagal lolos ke Liga Super, Tangerang Derbi belum juga masuk liga.

Menyambut Babak Baru Setelah Dipukul Balik oleh Fanatisme Buta

Kompetisi yang menyertakan Derby Tangerang terkadang memalukan. Bukan hanya gengsi, tapi juga kebencian. Perkelahian suporter kerap terjadi, mencabut korban luka bahkan nyawa tak berdosa.

Fanatisme buta ini juga turut menyebabkan mundurnya sepak bola Tangerang. Pada 2012, akibat maraknya kekerasan, MUI Tangerang melarang kegiatan sepak bola. Polisi pun menyambutnya. Persikota dan Persita dilarang menggelar pertandingan di Stadion Benteng.

Persita harus mengakhiri musim dengan mengeluarkan pesta. Sedangkan Persikota bernasib lebih malang. Magic Baby Vacuum, sama sekali tidak ada aktivitas.

Larangan tersebut merupakan pukulan telak bagi sepak bola Tangerang. Pihak-pihak yang terlibat, terutama suporter kedua klub, juga berpikir.

Benteng Mania dan La Viola pasti ingin sepak bola kembali ke Tangerang. Mereka juga berkomunikasi dan setuju untuk berkomitmen dalam olahraga sepak bola yang damai. Suporter Persikota dan Perista melakukan deklarasi damai di depan Stadion Benteng.

Baca juga: Penyakit APBD dan Jatuhnya Persikota

Kelompok pendukung juga berupaya meyakinkan MUI dan aparat keamanan tentang komitmen perdamaian mereka. Di tahun 2018, komitmen suporter disambut baik. MUI secara resmi mencabut "permohonan ilegal" dan sepak bola dapat dilanjutkan di Tangerang.

"Pertandingan sedang berlangsung, keributan sudah berkurang. Itu semua dari ekspektasi saya. Karena tanpa sepakbola, dunia juga akan sepi, ”kata Haji Mansur, salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian Persikota.

Persaingan yang penuh kekerasan dan kebencian coba ditunda oleh kedua klub. Kini, Persikota dan Persita tengah melihat babak baru persaingan damai.

Namun, Derby Tangerang harus ditunggu kembali. Persikota mencoba bangkit. Baby Ajaib saat ini bermain di Liga 3. Sementara itu, adiknya, Persita, sedang menunggu rival sekotanya di Liga 1.