Manuel Pellegrini: Memperbaiki Real Betis, Mengangkat Harkat Pribadi

Manuel Pellegrini: Memperbaiki Real Betis, Mengangkat Harkat Pribadi

Pemecatan oleh West Ham United adalah salah satu titik terendah dalam karier manajerial Manuel Pellegrini. Pernah membawa Manchester City merengkuh titel Premier League, ia kesulitan mengangkat West Ham dari papan bawah. Ketika didepak, ia meninggalkan The Hammers di peringkat 17.

Manajer asal Chili tersebut selalu menegaskan bahwa ia adalah orang yang tepat memimpin West Ham. Ia telah melatih di dua benua dan 13 klub yang membuatnya kaya pengalaman. Tetapi, pada akhirnya, hasil pertandingan yang bicara. Pellegrini hanya meraih dua kemenangan dari 14 pertandingan terakhir (semua kompetisi) sebelum pemecatannya. Ia didepak usai kalah dari Leicester City di Premier League.

Meskipun itu kejadian mengecewakan, kedua belah pihak menerima dan mungkin kini mensyukurinya. West Ham berkembang pasti di bawah David Moyes, suksesor Pellegrini. Sementara Pellegrini nyatanya tak butuh waktu lama untuk menemukan klub baru. Menjelang musim 2019/20 berakhir, pria berusia 67 tahun ini diumumkan sebagai pelatih Real Betis untuk musim 2020/21.

La Liga adalah kompetisi tepat untuk mengangkat kembali karier Manuel Pellegrini. Eks pelatih Universidad Catolica ini kaya pengalaman di Spanyol. Dari Amerika Latin, Pellegrini pada mulanya merantau ke Eropa dengan melatih klub La Liga. Ia menukangi Villareal, Real Madrid, dan Malaga pada kurun 2004-2013.

Akan tetapi, tantangan besar menanti Pellegrini di Benito Villamarin. Ia diwarisi skuad yang “trauma” atas kampanye payah 2019/20. Real Betis, yang tadinya kontestan Europa League di bawah Quique Setien, musim lalu finis di peringkat 15 dengan berjarak lima poin dari zona degradasi.

Meskipun demikian, Pellegrini memasang target muluk sejak awal musim. Ia ingin membuat Los Verdiblancos punya daya saing di zona Eropa. Di musim pertamanya, Pellegrini pun mengincar tiket ke kompetisi UEFA.

“Sudah 15 tahun menjadi pemain dan 33 tahun sebagai pelatih. Saya ingin memberikan semuanya ke Betis sehingga mereka bisa berjuang untuk bermain di Eropa setiap tahunnya,” kata sang pelatih di awal kedatangan.

Presiden Betis, Angel Haro percaya akan kualitas manajerial Pellegrini setelah meninjau pengalaman suksesnya memimpin Villareal dan Malaga. Pellegrini berhasil membawa El Submarino Amarillo lolos ke semifinal Liga Champions dan menjadi runner-up La Liga. Di Malaga, ia mengantar klub finis di peringkat empat dan menembus perempat final Liga Champions di tengah krisis finansial.

Pellegrini dipandang cocok meneruskan proyek Real Betis. Ia pun merupakan sosok yang dihormati di Benito Villamarin.

“Kami perlu kepemimpinannya [Pellegrini] untuk mewujudkan kemenangan sebagai kewajiban di Betis,” kata Haro dilansir El Pais.

Harapan direksi Betis pun menjadi kenyataan. Hingga jornada 26, Sergio Canales dan kawan-kawan menempati peringkat enam La Liga. Pada 2019/20, Beticos hanya mampu meraih 10 kemenangan dari 38 pertandingan. Musim ini, mereka telah meraup 13 kemenangan dari 26 jornada.

Belakangan ini, Betis menampilkan tren impresif. Joaquin dan kolega memenangi tujuh dari sembilan pertandingan terakhir di La Liga, meraih 22 poin dari maksimal 27. Dari sembilan laga tersebut, Betis hanya kalah sekali. Kalah 2-3 dari Barcelona pada 8 Februari silam.

Baca:  Preview Liverpool vs Leeds United: Potensi Tercipta Banyak Gol


Semua ini dicapai Pellegrini dengan mengandalkan skuad yang sudah ada. Ia mengangkat kepercayaan diri para pemain yang terjerembab di La Liga musim lalu. Pemain seperti Nabil Fekir, Emerson, dan Sergio Canales bersinar di sistemnya.

“Dia [Pellegrini] adalah orang yang memahami apa yang ingin dia mainkan, mendefinisikan tim dan filosofi dengan sangat baik. Dia mampu membuat keseimbangan dan kemampuan meraih hasil dari tim yang sayangnya baru saja mengalami tahun yang sulit,” kata kapten tim, Joaquin kepada Betis TV.

Joaquin pernah mengalami manajemen Pellegrini di Malaga. Saat Betis masih mencari pelatih, pemain berusia 39 tahun ini memberi rekomendasi positif atas rencana penunjukkan Pellegrini.

Di La Liga 2020/21, Joaquin pun masih sering dilibatkan sebagai winger Betis. Pellegrini memakai sistem 4-2-3-1 dan membutuhkan empat pemain sebagai outlet serangan inti. Andalan Pellegrini di lini serang adalah Nabil Fekir dan Sergio Canales.

Pellegrini mencoba mencapai keseimbangan antara menyerang dan bertahan dengan 4-2-3-1. Di lini serang, kuartet Betis bergerak aktif dan cair. Betis mencoba melakukan pressing tinggi yang, meskipun tidak begitu intens, namun cukup efektif. Los Verdiblancos adalah tim dengan tekel di sepertiga akhir terbanyak (55) di La Liga sejauh ini.

Kuartet penyerang Betis diberi kebebasan bergerak. Mereka biasa bergerak ke satu area tertentu untuk menciptakan situasi menang jumlah (overload). Dari sayap, kuartet Betis didukung duo fullback, Emerson dan Alex Moreno atau Juan Miranda, yang rutin naik dan membuat peluang via umpan silang.

Skema Betis pun membuat mereka tampil meyakinkan sejauh ini. Hingga jornada 26, Los Verdiblancos menjadi tim dengan rata-rata tembakan per pertandingan terbanyak ketiga (12,04) di La Liga.

Untuk mencetak gol, Betis tidak bergantung pada sosok tertentu. Sergio Canales memang jadi pemain terprolifik dengan keterlibatan gol mencapai 13 (tujuh gol dan enam asis). Tetapi, Betis memiliki banyak opsi selain Canales. Sejauh ini, anak asuh Pellegrini mencetak gol dengan 15 pemain yang berbeda. Ketika para penyerang buntu, Betis pun memiliki supersub dalam diri Borja Iglesias dan Cristian Tello.

Serangkaian hasil positif menegaskan keseriusan Betis untuk lolos ke Europa League atau, kalau bisa, Liga Champions. Mereka saat ini hanya tertinggal enam poin dari empat besar. Batas akhir zona UCL ditempati rival abadi Betis, Sevilla.

Kedua tim akan bertemu di Derbi Andalusia pada Senin (15/3/2021) dini hari waktu Indonesia. Derbi Andalusia edisi kali ini signifikan bagi upaya kedua tim meraih tiket Liga Champions. Jika ingin menunaikan misinya — lolos ke kompetisi UEFA — Pellegrini wajib meraih hasil maksimal lawan anak asuh Julen Lopetegui.