Liverpool vs RB Leipzig: Duel Krusial Alexander-Arnold vs Angelino

Liverpool vs RB Leipzig: Duel Krusial Alexander-Arnold vs Angelino

RB Leipzig tertinggal agregat 2-0 tapi mereka belum kalah. Setelah perjalanan ke semifinal musim lalu, die Roten Bullen tentu tak ingin tersingkir di babak 16 Besar. Menjelang leg “tandang” di Stadion Puskas Arena, Hungaria, anak asuh Julian Nagelsmann bakal tampil maksimal untuk menambal defisit.

Salah satu senjata andalan Nagelsmann untuk mengatasi Liverpool adalah lini sayap, terutama sisi kiri. Pemain andalan Leipzig di lini tersebut adalah eks bek Manchester City, Angelino. Pemain bernama lengkap Jose Angel Tasende ini menjelma wing-back ganas di tangan Nagelsmann.

Musim ini, Angelino merupakan top skor kedua RB Leipzig di semua kompetisi. Pemain berkebangsaan Spanyol itu telah mencetak delapan gol dari 31 pertandingan. Umpan-umpan Angelino dari sayap kiri juga terbukti mematikan dengan dia telah mencetak sembilan asis pada 2020/21.

Di Leipzig, Nagelsmann biasa memasang Angelino sebagai wing-back yang sering naik ke sepertiga akhir atau kotak penalti. Saat kehilangan bola, eks pemain Mallorca itu bersedia turun dan membentuk pertahanan lima bek. Setelah bola berhasil direbut, Angelino pun sigap membantu atau bahkan menginisiasi serangan dari sayap kiri.

Sementara itu, Liverpool-nya Juergen Klopp juga mengandalkan serangan dari sayap. Dalam skema Klopp, peran dua full-back sangat penting untuk progresi bola dan kreasi peluang. The Reds memiliki Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson, dua full-back elite yang berperan vital dalam kesuksesan Liverpool dua musim belakangan.

Skema dua pelatih tersebut membuat duel antar bek sayap Liverpool vs Leipzig tak terelakkan. Di leg pertama lalu, dua bek sayap pun saling berhadapan dalam pertandingan yang relatif berimbang. Andrew Robertson berduel dengan Tyler Adams yang mengokupasi sayap kanan. Sedangkan Angelino saling mengadang pergerakan Trent Alexander-Arnold.

Leg pertama berakhir 0-2 setelah Mohamed Salah dan Sadio Mane memanfaatkan kesalahan individual bek lawan. Di leg kedua, Nagelsmann tentu tak ingin kesalahan terulang. Die Roten Bullen sendiri adalah tim dengan rekor pertahanan terbaik di Bundesliga 2020/21, hanya kebobolan 20 gol dari 24 pertandingan.

Baca:  16 Dribel Neymar yang Menyingkirkan Atalanta

Musim ini, per Whoscored, 38% serangan RB Leipzig diinisiasi dari sayap kiri. Untuk menetralkan serangan die Roten Bullen, peran defensif Alexander-Arnold di sisi kanan pun amat diharapkan The Reds.

Resep Mengalahkan Liverpool Adalah Bermain dengan Blok Rendah


Alexander-Arnold bakal disibukkan serangan cepat Leipzig. Selai Angelino, “tim tamu” juga memiliki winger eksplosif macam Christopher Nkunku yang cakap beroperasi di sayap kiri. Anak asuh Nagelsmann diprediksi akan berusaha mengekspos Alexander-Arnold dan menciptakan peluang dari sana.

Alexander-Arnold sendiri lebih rawan terekspos dibanding koleganya, Andrew Robertson. Hal ini diperparah dengan absennya Jordan Henderson dan Joe Gomez akibat cedera. Dua pemain ini tangkas menutup celah saat bek kanan Liverpool itu dalam posisi menyerang atau berhasil dilewati.

Jelang pertandingan, Angelino mengomentari permainan lawannya itu. Menurutnya, Alexander-Arnold terlalu ofensif sebagai seorang bek.

“Alexander-Arnold luar biasa saat menguasai bola, tetapi kadang dia terlalu menyerang. Jadi kami harus menemukan kelemahan itu, membuat beberapa kesempatan seperti yang kami perbuat di pertandingan pertama,” kata Angelino dikutip The Guardian.

Di lain sisi, The Reds sedang menjalani momentum negatif. Mereka menelan enam kekalahan beruntun di Anfield, pertama kali sepanjang sejarah klub. Di Premier League, anak asuh Klopp juga telah kebobolan 36 gol dari 28 pertandingan. Sebagai catatan, The Reds hanya kebobolan 21 gol dari 29 pertandingan sebelum jeda pandemi tahun lalu.

Meskipun demikian, Liverpool tetaplah menyandang status unggulan di pertandingan ini. Selain unggul agregat, skuad besutan Juergen Klopp juga diuntungkan dua gol tandang. Liga Champions musim ini pun adalah kesempatan The Reds untuk mengobati kekecewaan mereka di Premier League.