Kota Moskow: Ibu Kota Sepakbola yang Terlupakan

Kota Moskow: Ibu Kota Sepakbola yang Terlupakan

Oleh: Muhammad Farhan Atmawinanda

Apa yang pertama kali terpikirkan jika seseorang menyuruhmu untuk menyebutkan apa saja ibu kota di dunia yang memiliki banyak klub sepakbola? London pasti akan terlintas pertama kali di kepalamu dengan segudang klub. Mulai dari klub penghuni divisi teratas seperti Chelsea, Arsenal, Tottenham, West Ham United, Fulham, Crystal Palace, hingga klub-klub penghuni divisi bawah, seperti Watford, Brentford, Milwall, dan Queens Park Rangers.

Lalu kota Roma yang memiliki duel akbar yang terangkum dalam Derby Della Capitale yang mempertemukan AS Roma dan Lazio. Atau mungkin juga Anda malah terpikir ibu kota negara tercinta, Jakarta, yang dulu memang memiliki cukup banyak klub selain Persija, seperti Persijatim, Persija Barat, Persitara, Pelita Jaya, hingga PSJS.

Namun, apakah Anda akan terpikir kota Moskow? Sedikit yang mengetahui bahwa ibu kota Rusia ini ternyata telah menyimpan sejarah panjang persaingan sepakbola yang menarik dan sengit yang terpecah ke dalam lima tim. Dynamo Moskow, Spartak Moskow, Torpedo Moskow, Lokomotiv Moskow, dan CSKA Moskow membentuk pentagon persaingan sepakbola di kota ini. Lima tim, satu kota.

Semuanya berawal dari Dynamo Moskow, klub sepakbola tertua di Rusia. Berakar dari perkumpulan sejumlah klub lokal pada tahun 1887, nama “Dynamo Moskow” kemudian pertama kali digunakan pada tahun 1923. Pembentukan klub ini tak lepas dari sebuah komunitas olahraga Dinamo yang dinaungi otoritas intelijen rahasia dan polisi pemerintahan Uni Soviet, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti atau KGB.

Hingga saat ini, klub ini diafiliasikan dengan pihak berwenang dan mendapatkan julukan “polisi rendahan”, atau bahkan “sampah” oleh suporter dari kalangan rendah.

Lalu, muncul Spartak Moskow. Klub yang lahir dari kalangan pekerja serikat buruh. Duel antara kedua klub ini disebut dengan “The Oldest Russian Derby”. Klub ini sering dianggap sebagai medioker, namun membawa semangat juang kaum bawah. Simbolisme klub rakyat yang berjuang melawan sistem tirani, layaknya budak gladiator “Spartacus” yang memimpin pemberontakan melawan Roma.

Dengan narasi rakyat jelata vs penguasa, hubungan Spartak vs Dynamo memang kompleks. Tensi tinggi selalu tersaji kala kedua tim saling bertemu dan bahkan bisa melebar hingga keluar lapangan sepakbola.

Kisah dimulai saat ditangkapnya Nikolai Starostin, pendiri dan pemain sepakbola tim Spartak, bersama tiga saudaranya pada 1937. Saat itu mereka ditangkap karena diduga menerapkan metode borjuis ke dalam olahraga Soviet. Walaupun berujung kebebasan, seterusnya mereka selalu dipantau hukum dan dijerat berbagai kasus di pengadilan yang pada akhirnya menghambat prestasi Spartak.

Catatan Buruk Ultras Torpedo Moscow dan Antisipasi Piala Dunia 2018

Starostin sempat dituduh merencanakan pembunuhan kepada Josep Stalin, pemimpin di Soviet pada waktu itu, agar ia dapat mengubah Soviet menjadi negara fasis. Starostin dan pihak Spartak menduga bahwa tuduhan itu didalangi Lavrenty Beria, pimpinan Dynamo dan tangan kanan Stalin.

Spartak sangat terpengaruh oleh hilangnya pendiri mereka. Mereka hanya memenangkan satu pertandingan liga dalam dekade 1940-50 melawan Dynamo. Setelah mengamankan liga dan piala domestik berturut-turut pada tahun 1938 dan 1939, mereka memenangkan hati rakyat, namun Spartak ditakdirkan untuk kalah dari sistem politik penguasa.

Tapi toh pada akhirnya, Nikolai Starostin dan Spartak Moskow bisa tertawa lepas. Setelah bebas dari penjara, Starostin kembali memimpi Spartak pada tahun 1955 (berlanjut sampai 1992). Tak hanya itu, prestasi Spartak yang semakin moncer, diikuti dengan turunnya performa Dynamo. Persaingan Spartak-Dynamo kehilangan signifikansinya dalam kalender sepakbola.

Semenjak jatuhnya Uni Soviet, Dynamo belum pernah sekalipun memenangkan gelar liga. Mereka bahkan tidak pernah memenangkan Liga Premier Rusia, sebuah kompetisi baru yang dibentuk pada tahun 1992, dan terdegradasi dari divisi teratas untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka pada tahun 2016.

Sebaliknya, Spartak telah memenangkan liga baru sebanyak sembilan kali. Beberapa penggemar Dynamo menyebut fenomena ini sebagai “Kutukan Beria”, mengacu pada mantan presiden kehormatan mereka Lavrentiy Beria. Setelah kematian Stalin, Beria dieksekusi mati karena tuduhan kejahatan terhadap rakyat Soviet dan diyakini bahwa jebloknya prestasi Dynamo hingga hari ini adalah hukuman karena dosa masa lalu Beria dan segala propagandanya.

Spartak, di sisi lain, telah berubah dari ketakutan menjadi kekuatan. Tampaknya, dalam hal ini, si kecil menang.

Baca:  Sepakbola dan Kesusastraan | Pandit Football Indonesia


Spartak bukan satu-satunya klub sepakbola yang terpengaruh kekuasaan tirani. Tim Moskow lainnya juga menderita seiring kesuksesannya Dynamo, yaitu Torpedo Moskow. Dibentuk pada tahun 1924 dari komunitas industri otomotif, klub ini mulai menikmati kesuksesan di tahun 1960-an berkat Eduard Streltsov, penyerang Torpedo yang dikenal sebagai “Pelé Rusia”.

Dianggap sebagai pemain lapangan terbaik yang pernah diproduksi Rusia, saat itu Streltsov justru dijatuhi hukuman dua belas tahun dalam sistem kamp kerja paksa Gulag. Ia dihukum karena skandal pemerkosaan yang kontroversial ketika dia baru berusia 20 tahun.

Banyak pihak merasa skandal yang menimpa Streltsov adalah sebuah rekayasa. Pasalnya, pihak berwajib tak dapat menunjukkan bukti skandal pemerkosaan. Terlebih lagi, sang pemain menolak kontrak Dynamo Moskow dan memilih bertahan di Torpedo.

Spartak dan Dynamo, Kesebelasan Moscow yang Lahir di Tanggal yang Sama

Cerita sepakbola kota Moskow juga tidak terlepas dari kehadiran Lokomotiv Moskow dan CSKA Moskow. CSKA Moskow merupakan salah satu klub Rusia tertua setelah Dynamo (didirikan sejak 1911). Seperti Dynamo, CSKA juga erat hubungannya dengan pihak berwenang. Dalam bahasa Inggris, CSKA secara harfiah berarti `Klub Olahraga Angkatan Darat`, karena mereka memang tim resmi Tentara Soviet selama era komunis. Klub ini juga membentuk persaingan sengit dengan Spartak dengan tajuk “The Main Moscow Derby”.

Kendati sudah sangat tua, “The Army Men” baru mulai muncul di tengah-tengah persaingan Dynamo-Spartak dan menikmati momen sukses mereka di Liga Top Soviet pada periode 1946-51, yang mana mereka mampu memenangkan lima gelar liga dalam enam tahun.

Klub kemudian menjelma menjadi kekuatan terbesar sepakbola dalam negeri pada era modern. Mereka mampu memenangkan liga sebanyak enam kali pada periode 2003-2016 dan konsisten berada di papan atas dan langganan lolos Liga Champions atau Liga Europa.

Klub selanjutnya, Lokomotiv Moskow, seperti namanya, didirikan oleh perkumpulan olahraga sukarela di kalangan pekerja transportasi kereta api yang dimiliki oleh Kementerian Transportasi Soviet. Lokomotiv mulai dikenal pada tahun 1951 ketika mereka mendapatkan promosi ke Liga Top Soviet, di tengah persaingan dan dominasi Spartak dan Dynamo.

Klub ini dikenal memiliki pendekatan olahraga yang sedikit berbeda. Saat klub Soviet lainnya sangat jarang memainkan laga dengan tim asing karena ketegangan politik pada medio 1950-an, Lokomotiv justru kerap memainkan pertandingan persahabatan melawan tim-tim di Eropa, Afrika, Asia, dan bahkan Amerika Utara.

Lokomotiv yang dikenal sebagai “roda kelima kereta Moskow”, setelah Dynamo, Spartak, Torpedo, dan CSKA, pada akhir abad ke-20, mulai berevolusi dari tim terlemah menjadi salah satu tim sepakbola papan atas di Rusia. Mereka memenangkan Liga Premier Rusia pertamanya pada tahun 2002 dan kemudian memenangkannya lagi dua tahun kemudian, sebagian besar berkat jasa sang manajer, Yuri Semin. Yuri merupakan figur ikonik sepakbola kota Moskow karena selain pernah menjabat sebagai pelatih Lokomotiv, ia pernah bermain untuk tiga klub ibu kota sekaligus, yaitu Spartak, Dynamo dan Lokomotiv. Ia merupakan simbol dari dari keberanian karena dengan rasa tanpa takut ia dengan bebasnya menyeberang dari satu tim ke tim rival lainnya.

Jadi setelah semua kisah ini, manakah klub kota Moskow favorit anda? Apakah itu tim representatif masyarakat kalangan bawah, Spartak atau mungkin pemilik bakat tertinggi sepakbola Rusia, Torpedo? Apakah Lokomotiv dan CSKA yang baru-baru ini bersinar di era modern? Atau apakah justru anda memfavoritkan Dynamo?

Semuanya memiliki sejarah yang kaya untuk dibagikan dan terkadang melampaui nilai-nilai olahraga. Di kota Moskow, pertempuran untuk supremasi sepakbola akan terus membara. Jika sejarah telah mengajari kita sesuatu, siapa pun yang duduk di tahta sepakbola ibu kota ini sebaiknya tidak boleh merasa terlalu nyaman, karena kekuatan bisa terus bergeser seiring berjalannya waktu.

*Penulis adalah fans The Blues Chelsea yang tetap setia mendukung walaupun kerap gonta-ganti pelatih. Bisa disapa di akun twitter @CFC_Atma

**Tulisan ini merupakan hasil kiriman penulis melalui kolom Pandit Sharing. Segala isi dan opini yang ada dalam tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.