Hikayat Buah Pala di Lapangan Sepakbola

Hikayat Buah Pala di Lapangan Sepakbola

Oleh: Risyad Tabattala

Bagi para penggemar sepak bola mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah “pala” atau “pala”. Istilah tersebut mengacu pada taktik dalam sepak bola, yaitu ketika pemain mengoper bola di antara kaki lawan, untuk diserahkan kepada rekan satu tim lain atau langsung dipimpin oleh pemain itu sendiri. Di pentas sepak bola lokal, cara ini juga biasa kita kenal dengan istilah “mengolongin”.

Dalam sepakbola sendiri, siasat “pala” dianggap menghina para korbannya. Pemain yang menjadi korban "pala" akan ditertawakan oleh pendukung lawan, dan dalam hitungan menit video tersebut langsung tersebar di dunia maya. Beberapa pemain kelas dunia memang dikenal sangat ahli dengan trik ini, mulai dari Riquelme, Ronaldo, Ronaldinho, Robinho, Neymar, Lionel Messi, Eden Hazard hingga Luis Suarez.

Luis Suarez sangat pandai dalam trik Pala, saat bermain untuk Liverpool, di salah satu sudut Anfield bahkan ada spanduk raksasa bertuliskan "Suarez bisa pala Mermaid" alias "Suarez bisa kelas putri duyung" – jelas dia bahkan tidak punya kaki.

Lantas mengapa trik ini disebut "pala" yang dalam bahasa Indonesia berarti pala? Ternyata ada dua teori yang diyakini berasal.

Teori pertama. Mengacu pada "Over the Moon, Brian – The Language of Football", yang ditulis oleh Alex Leith, istilah "nutmeg" atau "nut" secara singkat mengacu pada istilah bahasa Inggris jalanan yang berarti testis atau testis. Istilah yang kemudian diadaptasi dalam sepak bola ini, di mana trik mengoper bola melewati kedua kaki lawan (yang kebetulan juga melewati testis / testis) dikenal dengan istilah "pala".

Teori kedua. Dalam bukunya The Greatest Language and Folklore Of The World's Game, Peter Seddon mengatakan bahwa istilah tersebut berasal dari abad 19. Sebuah komoditas perdagangan yang sangat berharga di pasar Eropa.

Baca:  Perpisahan Emosional Eddie Howe dengan Ceri Manis yang Sedang Terjatuh


Setengah kilogram pala bahkan setara dengan tujuh ekor sapi gemuk saat itu. Lebih dari sekadar bumbu dapur, produk endemik asli Banda Neira ini digunakan oleh orang Mesir kuno dalam proses pengawetan mumi raja-raja mereka. Ekspedisi pelayaran kolonial Eropa ke seluruh penjuru dunia pun tak mungkin dilakukan tanpa pala menjaga logistik mereka sepanjang perjalanan. Itu sebabnya, ungkapan lama mengatakan bahwa siapa pun yang memegang pala akan menguasai dunia.

Pengiriman pala dari Banda Neira, yang sangat dihargai di pasar rempah-rempah Inggris, akhirnya memicu praktik penipuan. Praktik ini dilakukan dengan mencampurkan buah pala dengan potongan kayu yang diukir menyerupai buah pala. Trik ini sebenarnya mudah dilihat. Tapi sekali atau dua kali, masih ada yang tertipu. Dari sini, istilah “pala” sepertinya merujuk pada seorang pedagang yang tertipu hingga menganggap potongan kayu sebagai pala. Istilah tersebut kemudian menyebar ke lapangan sepak bola – yang pada saat itu menjadi populer di kalangan pekerja pelabuhan Inggris abad ke-19 – untuk menggambarkan seorang pemain yang ditipu agar membiarkan bola lewat di antara kedua kakinya.

Apa pun itu, siapa sangka, buah mungil asal Banda Neira di kawasan timur Indonesia ini kini bisa menjadi sebutan untuk siasat yang populer di kalangan banyak pemain sepak bola dunia, sekaligus menjadi bencana mengerikan bagi para korbannya.

* Sepak Bola, Biz, Teknologi & Menengah | Twitter: @tabattala

** Artikel ini merupakan presentasi penulis melalui kolom Pandit Sharing. Segala isi dan opini yang terkandung dalam makalah ini menjadi tanggung jawab penulis.