Favorit Juara Liga Champions, Apakah Manchester City Mampu Mewujudkannya?

Favorit Juara Liga Champions, Apakah Manchester City Mampu Mewujudkannya?

Sheikh Mansour telah menggelontorkan lebih dari satu miliar paun sejak mengakuisisi Manchester City pada 2008. The Citizens kemudian menjelma kekuatan dominan di Britania dan konsisten mewarnai papan atas Liga Inggris. Sejak 2008, City telah meraih empat titel Premier League, lebih banyak dari tim lain pada dekade 2010-an. Mereka juga membukukan rekor 100 poin pada 2017/18. Selain liga domestik, City juga memboyong dua Piala FA, lima Piala Liga, serta tiga Community Shield.

Akan tetapi, prestasi kancah domestik tak berjalan paralel dengan nasib City di Eropa. Hingga kini, sokongan masif Sheikh Mansour belum terbayar dengan titel Liga Champions. Salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepakbola, Pep Guardiola bahkan tak mampu mempersembahkan gelar bergengsi itu dalam empat musim. Kiprah The Citizens di Liga Champions masih mentok di semifinal (2015/16).

Pep mentok di perempat final selama menukangi City. Ia belum mampu menyamai capaian pelatih yang digantikannya, Manuel Pellegrini. Setelah tampil meyakinkan di fase awal Liga Champions dan masuk perbincangan kandidat juara, anak asuh Pep selalu terjungkal.

Musim ini, terlepas dari kegagalan mereka pada musim-musim sebelumnya, The Citizens kembali jadi favorit juara. Bursa rumah judi William Hill sejak awal mengunggulkan City, bersama Bayern Muenchen, untuk menjuarai Liga Champions. FiveThirtyEight, media dengan fokus analisis statistis, bahkan jauh lebih mengunggulkan Man City dibanding Bayern.

Per 22 Februari, saat leg pertama fase 16 Besar, probabilitas City menang Liga Champions mencapai 41% dalam prediksi FiveThirtyEight. Angka ini melampaui Bayern yang menjadi favorit kedua dengan probabilitas 12%. Favorit ketiga adalah Liverpool dengan peluang 10%. Sedangkan Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan Chelsea yang memiliki peluang 5% membuntuti di bawahnya.

FiveThirtyEight mendasarkan prediksinya pada sistem rating Soccer Power Index (SPI) ESPN yang dimodifikasi. Prediksi musim ini disimpulkan berdasarkan basis data performa musim sebelumnya yang digabungkan dengan nilai pasar sebuah skuad. Singkatnya, penilaian performa didasarkan pada statistik gol, expected goals, dan kumpulan aksi yang mengancam gawang lawan per pertandingannya.

Jika menilik metode di atas, status favorit juara Manchester City tak mengherankan. Tim ini terbilang konsisten dalam empat musim terakhir. Kendati harus merelakan gelar liga pada 2019/20, Kevin De Bruyne dan kolega masih menjadi runner-up dan tampil cukup baik dibanding tim lain.

Selain itu, City juga selalu lolos fase grup Liga Champions dengan relatif mudah. Pada empat musim terkini, mereka menjadi juara grup dengan torehan 13-16 poin dalam periode tersebut. The Citizens pun tampil luar biasa di Grup C musim ini. Anak asuh Guardiola mengamankan 16 poin atas Porto, Olympiakos, serta Marseille dan hanya kebobolan satu gol sepanjang enam pertandingan. Jelang babak 16 Besar, gawang City tak kebobolan selama total 526 menit.

Baca:  Gelandang Unggulan FPL PanditFootball: Gameweek 21

Tren impresif City membawa mereka memuncaki klasemen Liga Inggris dengan selisih 10 poin dari pesaing terdekat, Manchester United. Anak asuh Guardiola mencatatkan 18 kemenangan beruntun di semua kompetisi yang menjadi rekor klub. The Citizens juga tak terkalahkan dalam 25 pertandingan terakhir di semua kompetisi.


Meskipun sempat terseok di awal musim, City kembali ke fitrahnya. Di antara klub Inggris lain, Raheem Sterling dan kawan-kawan terbilang paling konsisten dalam empat musim terakhir. Fluktuasi statistik hasil serangan dan pertahanan mereka tak berbeda jauh dalam kurun tersebut. Catatan expected goals (xG) dan gol per pertandingan City selalu di atas 2, kecuali musim ini yang mencatatkan 1,95 XG dan 2,0 gol per pertandingan. Namun, penurunan ini diimbangi dengan statistik defensif yang membaik. City mencatatkan 0,72 expected goals against (xGA) dan hanya kebobolan 0,52 gol per pertandingan — terendah dalam empat musim terakhir — pada 2020/21.

Meninjau statistik di atas, City terlihat amat konsisten. Tetapi, berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, anak asuh Guardiola selalu tersingkir secara mengecewakan di Liga Champions. Mudah lolos dari babak grup, tetapi dieliminasi oleh tim yang kurang diunggulkan di fase gugur sinonim dengan Man City.

Pada 2016/17, musim pertama Guardiola, City ditekuk AS Monaco di babak 16 Besar. Setelahnya City mentok di perempat final, berturut-turut dieliminasi oleh Liverpool, Tottenham Hotspur, dan terakhir Olympique Lyon.

Jika mengesampingkan statistik dan menilik pengalaman empat musim terakhir, kiprah UCL City menumbuhkan pesimisme. Lantas, mampukah Guardiola mematahkan nasib buruk The Citizens di Eropa pada musim ini? Sang pelatih tentu merindukan trofi yang terakhir diraihnya pada 2010/11.

Guardiola sendiri memiliki skuad yang layak untuk menantang siapa pun. Pada 2020/21, City menemukan harmoni yang membawa mereka semakin tangguh, terutama di sektor pertahanan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kedatangan Ruben Dias, serta John Stones yang kembali ke level terbaiknya. Joao Cancelo yang jago bermain di beberapa posisi pun memberi dimensi baru ke permainan City. Entah sebagai bek kiri, kanan, atau gelandang, pemain berkebangsaan Portugal itu efektif melindungi pertahanan maupun menyokong serangan.

Serangkaian laga tanpa kekalahan dan kemenangan beruntun menunjukkan perkembangan skuad asuhan Guardiola secara paripurna. Mungkin musim ini adalah kesempatan terbaik Pep untuk menggondol Si Kuping Besar ke Etihad. Namun, pertama-tama, City harus mengeliminasi Borussia Moenchengladbach di babak 16 Besar.

Anak asuh Marco Rose bukanlah lawan mudah. Gladbach berhasil lolos dari “grup neraka” yang berisikan Real Madrid, Inter Milan, dan Shakhtar Donetsk. Lars Stindl dan kawan-kawan lolos sebagai runner-up usai unggul head-to-head 10-0 atas Shakhtar. Tim ini telah membuat banyak kejutan di fase grup. Dan bagi City, eliminasi oleh kuda hitam selalu menghantui.