Fabinho: Mercusuar Lini Tengah yang Dibutuhkan Liverpool

Fabinho: Mercusuar Lini Tengah yang Dibutuhkan Liverpool

Kemenangan atas RB Leipzig di 16 Besar Liga Champions 2020/21 memberi Liverpool sedikit kelegaan. The Reds berhasil mengeliminasi lawan berat di tengah tren performa yang sangat buruk di Premier League. Di leg kedua, Kamis (11/3/2021) dini hari, anak asuh Juergen Klopp menang 2-0 dan unggul agregat 4-0 atas die Roten Bullen.

Para penggawa Liverpool pun menunjukkan performa impresif dalam kemenangan di Puskas Arena tersebut. Duo bek muda, Nathaniel Phillips dan Ozan Kabak, tak tergoyahkan di lini belakang. Thiago Alcantara tampil agresif dan berjibaku membuka jalur serangan The Reds. Namun, yang paling menggembirakan tentu kembalinya Fabinho di lini tengah. Eks pemain AS Monaco itu tangkas menihilkan ancaman Leipzig.

Melawan Leipzig, Fabinho menunjukkan sosok sejatinya sebagai gelandang bertahan elite. Ia membuat empat intersep di pertandingan ini, terbanyak di antara skuad Liverpool. Fabinho juga empat kali melakukan tekel dan 15 kali merebut penguasaan bola (ball recoveries) untuk The Reds. Hanya Thiago dan Nat Phillips yang mencatatkan tekel dan recoveries lebih banyak bagi Liverpool di pertandingan tersebut.

Penampilan meyakinkan Fabinho membuatnya dinobatkan sebagai man of the match versi UEFA. Seusai pertandingan, sambil tersenyum puas, pria berkepala plontos itu mengungkapkan kebahagiaannya bisa bermain di pos no. 6 kembali. “Saya agak merindukan bermain di lini tengah,” ungkapnya.

Liverpool vs Leipzig menunjukkan peran vital Fabinho di lini tengah The Reds. Gelandang berusia 27 tahun itu gesit memotong alur serangan dan pergerakan pemain die Roten Bullen. Ia menihilkan ancaman dari gelandang sekaliber Dani Olmo dan Emil Forsberg.

Apabila meninjau heatmap Fabinho (via Sofascore) di laga Liverpool vs Leipzig, pemain bernomor punggung 3 itu terlihat cakap mengover lini belakang. Ia persisten menutup kedua sisi lini tengah di sepertiga pertahanan The Reds. Dalam laga ini, Leipzig cenderung menyerang via sisi kiri dan kombinasi Fabinho-Thiago berhasil menghalaunya.

Kegigihan Fabinho terlihat dari statistik pressing-nya. Ia tercatat 23 kali melakukan press, 12 di antaranya di lini tengah dan tujuh di sepertiga pertahanan. Kegigihan ini memampatkan serangan anak asuh Julian Nagelsmann dan mereduksi ancaman potensial bagi lini belakang.

Seusai pertandingan, Juergen Klopp mengapresiasi performa Fabinho di posisi naturalnya. Pelatih asal Jerman ini menginginkan sang pemain tetap berperan sebagai gelandang. Tetapi, krisis cedera di lini belakang memaksanya jadi bek tengah beberapa bulan terakhir.

“No. 6 adalah posisinya, salah satu yang terbaik sedunia di posisi tersebut, itu jelas. Dia tidak hanya sangat bagus dalam hal pertahanan, dia memainkan beberapa hal [aksi dengan bola] dengan baik juga. [Fabinho] penting bagi kami,” kata Klopp.

Sudah waktunya Fabinho kembali secara permanen ke lini tengah. Sejak Oktober 2020, ia selalu mengisi pos bek Liverpool. Cedera serius yang dialami Virgil van Dijk, Joe Gomez, dan Joel Matip menyisakan Fabinho sebagai satu-satunya “bek tengah” senior.

Baca:  Porto Menang, Meski Akhirnya Kebobolan

Selama ini, Klopp tampak ragu-ragu melepaskan bek muda The Reds tanpa pemain senior sebagai tandem. Kini, Nathaniel Phillips terus membuktikan kapasitasnya dan Ozan Kabak semakin nyetel dalam sistem Klopp. Dengan moncernya para bek muda, eks pelatih Dortmund itu bisa memercayakan lini belakang kepada mereka dan mengembalikan Fabinho ke tempat yang seharusnya.


Keberadaan Fabinho sebagai holding midfielder sangat penting bagi stabilitas lini tengah dan pertahanan Liverpool. Ketika The Reds meraih trofi Premier League musim lalu, pemain dengan 12 caps Timnas Brasil tersebut memiliki peran esensial sebagai no. 6.

Pada 2019/20, Fabinho turun dalam 28 pertandingan Liverpool di Liga Inggris dengan total 2.079 menit bermain. Performanya sebagai gelandang jangkar cukup mencolok, mencatatkan 77 tekel (3,3 per pertandingan) yang 37 di antaranya dibuat di lini tengah. Fabinho menjadi pemain dengan jumlah tekel terbanyak ke-19 di Premier League 2019/20.

Ia pun mencatatkan 25 intersep (1,08 per pertandingan). Catatan intersepnya berada di urutan 20 di antara pemain lain yang berkiprah di Premier League 2019/20.

Untuk menempatkan angka-angka di atas ke konteks yang tepat, rata-rata tekel dan intersep Fabinho adalah yang tertinggi di antara penggawa Liverpool yang bermain secara reguler. Bermain secara reguler berarti mendapat menit bermain setidaknya 1.800 menit atau lebih.

Keberadaan Fabinho efektif melindungi lini belakang. Patrolinya di lini tengah dan sepertiga pertahanan mengurangi risiko tereksposnya dua bek tengah Liverpool. Fabinho cakap memotong umpan terobosan atau mengadang gelandang serang sebelum memasuki area berbahaya.

Selain itu, ketangkasannya menjaga lini tengah membuat rekannya di pos gelandang bisa menjalankan peran box-to-box dengan lebih leluasa. Selama Fabinho menjadi deputi lini belakang, peran holding midfielder Liverpool diisi bergantian oleh Jordan Henderson, Thiago Alcantara, dan Georginio Wijnaldum. Tentu hal itu agak disayangkan. Pasalnya, ketiga gelandang tersebut cakap tampil sebagai mesin progresi The Reds.

Wijnaldum adalah gelandang dengan resistensi pressing mumpuni dan menempatkannya sebagai holding midfielder membatasi bakat olah bolanya. Sosok Fabinho pun memberi rasa aman bagi Curtis Jones atau Thiago untuk menjalin koneksi dengan penyerang dan fullback Liverpool yang melakukan overlap.

Jika bermain di lini tengah, Fabinho juga bisa membantu The Reds untuk membuka blok rendah. Kendati tak terlalu sering mengirim umpan kunci, Fabinho mampu membuat umpan yang memintas lini belakang lawan. Musim lalu, ia mencetak tiga asis dan rata-rata membuat 0,91 umpan ke kotak penalti per pertandingan (Premier League).

Liverpool perlu mengembalikan Fabinho ke lini tengah untuk menyelamatkan musim mereka. Dengan Fabinho, anak asuh Klopp memiliki stabilitas dan keteraturan dalam pendekatan ofensif yang seringkali menumbalkan pertahanan. Fabinho, dalam bahasa asisten Klopp, Pep Lijnders, adalah “mercusuar” yang menerangi Liverpool dalam “kekacauan” yang sengaja mereka buat demi transisi ofensif.