Bayern Muenchen vs Dortmund: Duel Tim Ofensif, Sama-sama Menyerang dari Sayap

Bayern Muenchen vs Dortmund: Duel Tim Ofensif, Sama-sama Menyerang dari Sayap

Beberapa musim belakangan, der Klassiker antara Bayern Muenchen vs Borussia Dortmund adalah “final” Bundesliga. Situasinya sedikit berbeda musim ini. Kendati die Schwarzgelben sempat menjadi saingan utama di awal musim, Marco Reus dan kawan-kawan terlempar dari persaingan gelar saat Rueckrunde. Kini Dortmund menempati peringkat lima, mesti bersaing dengan VfL Wolfsburg, Eintracht Frankfurt, dan Bayer Leverkusen untuk masuk zona Liga Champions.

Dibanding musim lalu, Dortmund memang meredup dan terpaksa ganti pelatih di tengah musim. Tetapi, hal tersebut tak akan mengurangi intensitas der Klassiker. Bayern dan Dortmund adalah tim tersukses Jerman dan pertempuran keduanya selalu menarik. Kedua tim ini juga merupakan dua kekuatan ofensif terbaik di Bundesliga 2020/21.

Di klasemen sementara, skuad besutan Hansi Flick memimpin dan tercatat sebagai tim terprolifik dengan 67 gol. Sedangkan Dortmund, meski terjatuh ke peringkat lima, adalah tim tersubur kedua dengan pundi-pundi 48 gol.

Kedua tim memang memiliki sosok striker terbaik di dunia sepakbola saat ini. Bayern memiliki Robert Lewandowski, penyerang yang mencetak rekor gol dahsyat seolah itu sekadar rutinitas. Sedangkan die Borussen punya Erling Haaland, penyerang 20 tahun dengan awalan karier yang membuat siapa pun berdecak kagum.

Akan tetapi, adu tajam Lewandowski vs Haaland tak bisa dilepaskan dari pola serangan dan para pemain yang mendukung mereka. Bayern dan Dortmund sendiri sejauh ini menunjukkan pola yang mirip: sama-sama menginisiasi serangan dari sayap.

Berdasarkan data yang direkam Bundesliga, 38% serangan Bayern dimulai dari sayap kiri dan 35% dari sayap kanan. Sayap kiri juga menjadi area dominan Dortmund dalam memulai serangan. Die Schwarzgelben memulai 38% serangan dari kiri. Dari kanan 34%.

Data di atas menunjukkan bahwa kedua tim rutin memulai sekuens ofensif dari sayap. Adu teknik dan dan visi di kedua sayap pun dapat menentukan hasil akhir der Klassiker. Lantas, sebelum Lewandowski dan Haaland beradu finishing, siapa saja aktor kunci serangan masing-masing tim?

Profil Aktor Serangan dan Duel Kunci

Bayern punya banyak cara mengalirkan bola ke kotak penalti dan mencetak gol. Di Bundesliga, die Bayern memiliki enam pemain berbeda yang mampu membuat lima asis atau lebih. Namun, meski banyak musim telah berlalu, otak Bayern di sepertiga akhir tetaplah Thomas Mueller.

Gelandang berusia 31 tahun itu masih tajam membaca permainan dan sigap mengeksploitasi ruang yang terekspos. Kecerdasan Mueller membawanya mengemas 11 asis musim ini, tertinggi di Bundesliga. Pada 27 Februari lalu, sekembalinya dari cedera, Mueller pun mencetak satu asis saat timnya menghajar FC Koeln.

Kombinasi Mueller dan winger gesit Bayern adalah mimpi buruk bagi barisan belakang Dortmund, terutama gelandang bertahan (Thomas Delaney). Karena sistem Bayern yang cair, Mueller pun sering bergerak melebar dan menciptakan masalah dari sayap. Musim ini, kendati berposisi di belakang striker, Mueller menjadi pemain Bayern yang paling sering mengirim umpan silang (74 kali).

Kecenderungan pemain bernomor punggung 25 tersebut membuat dua bek sayap Dortmund, kemungkinan Nico Schulz dan Mateu Morey, wajib mewaspadainya. Duo bek sayap pun harus berkonsentrasi penuh dan bekerja ekstra. Pasalnya, selain Mueller, Bayern memiliki winger eksplosif macam Serge Gnabry, Kingsley Coman, dan Leroy Sane. Alphonso Davies pun sering melakukan overlap dan menyerang area sayap.

Baca:  Rekomendasi tim Mobile Premier League Fantasy: FC Bayern vs FC Barcelona (UCL)

Pergerakan pemain yang cair adalah modal serangan berbahaya die Roten. Ketika Thomas Mueller melebar, winger biasanya akan menusuk ke dalam kotak penalti. Posisi Muller di tengah pun dapat diisi Joshua Kimmich yang membantu serangan. Kimmich sendiri menjadi aktor utama kemenangan Bayern dalam dua edisi der Klassiker tahun lalu.


Gol chip spektakuler Kimmich membawa anak asuh Hansi Flick menang di Signal Iduna Park setelah jeda pandemi 2020. Kemenangan itu mengubur mimpi Dortmund mengkudeta Bayern dari puncak tertinggi Bundesliga. Saat Piala Super Jerman, Oktober 2020, gol fenomenal Kimmich kembali mengunci kemenangan atas die Borussen.

Peran utama Kimmich memanglah untuk mengontrol lini tengah dan melindungi lini belakang Bayern. Tetapi, pemain bernomor punggung 6 ini juga kapabel menyuplai bola ke lini serang dan melepaskan umpan-umpan berbahaya. Sejauh ini, Kimmich telah mengemas 10 asis di Bundesliga.

Sebaliknya, kreator serangan yang wajib diwaspadai tuan rumah adalah Jadon Sancho. Pelatih interim Dortmund, Edin Terzic tentu berharap gelandang Inggris itu bisa dimainkan saat der Klassiker. Sancho mengalami cedera ringan saat mengeliminasi Borussia Moenchengladbach dari DFB-Pokal, 3 Maret 2021. Kesiapan Sancho untuk partai akbar ini belum bisa dipastikan.

Sancho kembali menjadi penyedia asis terbanyak Dortmund musim ini. Performa gelandang 20 tahun itu meningkat drastis sejak pergantian tahun. Sancho terlibat langsung dalam 12 dari 22 gol Dortmund di Bundesliga pada 2021. Rabu kemarin, Sancho juga mencetak gol tunggal yang mengeliminasi Gladbach.

Edin Terzic biasa menandemkan Sancho dengan Marco Reus dan Giovanni Reyna, membentuk trisula gelandang serang di belakang Haaland. Kombinasi ketiganya akan menjadi ujian serius bagi double pivot dan empat bek Bayern.

Baik Sancho, Reus, dan Reyna, sama-sama kapabel merangsek ke area berbahaya ataupun mengirim terobosan mematikan. Skema serangan balik cepat dan umpan terobosan mengancam Bayern malam nanti. Dortmund akan memanfaatkan Haaland yang mampu menembus lini belakang dengan kecepatan larinya.

Sebaliknya, kekuatan utama Bayern adalah pergerakan pemain mereka di kotak penalti lawan. Dalam hal ini, Lewandowski jagonya. Penyerang internasional Polandia ini cakap dalam pemosisian dan memiliki kemampuan penyelesaian yang mengagumkan. 20 dari 23 gol Lewandowski via situasi open play dicetak di dalam kotak penalti. Penyerang 32 tahun ini juga jauh melampaui nilai expected goals (xG)-nya, mencetak 28 gol dari xG senilai 19,3; menunjukkan kemampuan konversi peluang yang dahsyat. Tak heran jika Mueller memanggilnya “Lewangolski”.

***

Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund memiliki talenta penyerang yang impresif. Namun, belakangan ini, die Roten terbukti terlalu kuat bagi Dortmund. Marco Reus dan kawan-kawan tak pernah menang dalam enam lawatan terakhir (Bundesliga) ke Muenchen. Di ajang liga, mereka pun menelan empat kekalahan beruntun. Dortmund terakhir kali menang atas Bayern pada November 2018.

Jelang laga ini, Dortmund jelas merupakan kuda hitam. Tetapi, sepahit apa pun fakta, die Borussen hendak tampil berani dan memberi perlawanan sengit di Allianz Arena. “Yang paling penting adalah kami melakukan sesuatu yang tidak dapat mereka cegah. Kami akan menunjukkan keberanian dan spirit tim sekali lagi di Muenchen,” kata pelatih interim Dortmund, Edin Terzic.