Bali United: Destinasi Wisata Baru di Pulau Dewata

Bali United: Destinasi Wisata Baru di Pulau Dewata

Oleh: Putu Panji Bang Kusuma Jayamahe

Siapa yang tak kenal pulau Bali? Pulau ini beberapa kali dianugerahi sebagai destinasi pariwisata terbaik di dunia. Sejak puluhan tahun lalu, Bali telah memiliki daya tarik wisata yang besar bagi wisatawan dalam negeri mau pun mancanegara. Nama Bali pun terkadang lebih terkenal daripada Indonesia di kancah internasional. Dengan panorama alam yang dipadukan dengan terjaganya adat dan budayanya, kini Bali dijuluki The Last Paradise in the World.

Jika di dunia pariwisata Bali sangat dikenal, maka situasi ini tak berlaku di sepakbola. Nama Bali justru sangat jarang terdengar. Klub yang ada di Bali pada masa lalu bukanlah salah satu dari pendiri PSSI layaknya organisasi yang ada di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Magelang dan lainnya.

Sepakbola Bali juga sangat jauh tertinggal ketimbang wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa Barat, di mana di wilayah tersebut, sepakbola telah mengakar di dalamnya. Padahal sejak dulu Bali merupakan tempat bersinggahnya para legiun asing yang berasal dari berbagai negara sepakbola di dunia.

Gelora Dewata menjadi tim sepakbola pertama asal Bali yang berlaga pada kompetisi sepakbola nasional. Tim yang membangkitkan gairah sepakbola Bali hadir pada tahun 1989. Gelora Dewata pada awalnya dibentuk oleh HM Mislan, seorang pengusaha kontruksi. Beliau menjadikan putranya, Vigit Waluyo sebagai manajer tim kala itu. Nama Vigit Waluyo pun terkenal dan digadang–gadang menjadi the Godfather Sepakbola Indonesia karena kemampuannya meracik tim.

Komposisi pemain yang penuh dengan pemain nasional dan dipadukan dengan pemain lokal Bali menjadikan Gelora Dewata turut diperhitungkan dalam percaturan sepakbola nasional. Tim tersebut sempat melejit dalam percaturan sepakbola nasional ketika menjadi juara Piala Galatama pada musim 1992-1993 dan meraih runner up pada musim berikutnya hingga akhirnya berpindah ke Sidoarjo pada tahun 2001 dan berubah nama menjadi Gelora Delta Sidoarjo (kini Deltras Sidoarjo).

Minggatnya Gelora Dewata praktis hanya menyisakan tim–tim lokal daerah seperti Persegi Gianyar dan Perseden Denpasar. Meski sempat bermain di kasta tertinggi liga Indonesia, Persegi Gianyar tak mampu berbicara banyak. Begitu pula dengan Perseden Denpasar yang secara regular bermain di bawah kasta yang dimainkan Persegi Gianyar.

Keberadaan dua tim tersebut memudar pada akhir dekade pertama 2000-an. Sempat ada Bali Devata, klub yang hadir di era dualisme liga Indonesia dan tergabung dalam Liga Prima Indonesia. Sayangnya klub tersebut turut tenggelam bersamaan dengan hancurnya liga premier yang riwayatnya hanya seumur jagung.

Apabila ditengok dari fasilitas yang ada, Bali hanya memiliki dua lapangan yang dapat disebut sebagai stadion. Dua Stadion tersebut adalah Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar dan Stadion I Gusti Ngurah Rai di Denpasar. Dengan kondisi tersebut, wajar saja nama Bali di kancah sepakbola nasional tidak semenarik layaknya dalam dunia pariwisata.

Fenomena yang ada mendadak berubah ketika Persisam Samarindah dibeli, berpindah kandang, dan berubah nama menjadi Bali United pada tahun 2015. Sebuah tim yang berlaga di kasta tertinggi sepakbola Indonesia ini berhasil mencuri hati masyarakat Bali yang telah lama haus akan sepakbola.

Terlebih lagi, Bali United dipegang oleh Tanuri Bersaudara, yaitu Pieter dan Yabes Tanuri yang merupakan pengusaha besar sarat pengalaman dengan modal yang tak sedikit. Dengan mencanangkan diri akan menjadi klub yang profesional dan konsisten, Bali United dengan percaya diri mengarungi gelaran sepakbola nasional.

Baca:  Top Corner: Ketika Matematika Dipadukan Dengan Sepakbola

Seiring berjalannya waktu, Bali United berhasil menunjukkan sikap profesional dan konsisten: sikap yang sangat sulit didapatkan dalam dunia sepakbola Indonesia. Masyarakat Bali pun mulai menaruh perhatian lebih pada klub ini. Stadion Kapten I Wayan Dipta menjadi penuh sesak setiap klub berlaga. Militansi supporter mulai terbentuk, bahkan beberapa dari mereka siap mengawal sang kebanggaan berlaga di mana saja dan kapan saja.


Bali united juga mengambil langkah–langkah strategis dengan mengkomersialisasi sepakbola menjadi sebuah lahan bisnis yang baik. Hasil dari bisnis tersebut digunakan kembali untuk meningkatkan kualitas klub yang ada. Bali United juga menjalin hubungan yang positif dengan seluruh elemen supporter Bali United.

Saat ini, Bali United menjadi salah satu raksasa sepakbola Indonesia. Dalam jangka waktu 5 tahun, Bali United mampu menjuarai Liga Indonesia. Pemain berlabel Timnas silih berganti menghiasi komposisi tim.

Bali United juga menjadi klub percontohan bagi klub Indonesia lainnya. Pelebaran sayap bisnis dilakukan dengan membentuk Bali United Mega Store, Bali United Cafe, Bali United Playland, Bali United Academy, Bali United Youth Team, Bali United Women Team, Bali United Radio, Bali United E-Sports dan bahkan kini ada Bali United Basketball. Bali United juga memiliki agensi yang bernama United Creative atau Kreasi Karya Bangsa. Puncak dari seluruh ekspansi bisnis tersebut adalah Bali United berhasil menjadi klub pertama di Indonesia yang melakukan IPO (Initial Public Offering) dan melantai di bursa saham Indonesia dengan kode saham BOLA.

Setelah kedatangan Bali United, kini Pulau Dewata telah menjelma menjadi magnet sepakbola nasional. Dengan kekuatan tim yang mumpuni serta militansi suporter yang ada, praktis setiap pertandingan Bali United juga turut dinanti oleh seluruh pecinta sepakbola nasional.

Terlebih budaya awaydays yang menjadikan Bali sebagai salah satu prioritas bagi suporter klub yang hobi bertandang ke kandang lawan untuk mengawal klub kebanggaan mereka. Hasil pertandingan pun dapat dinomorduakan apabila klub kesayangan berlaga menghadapi Bali United. Siapa yang tak ingin safari sepakbola dengan mengawal tim kebanggaan masing–masing berlaga menghadapi Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar.

Bali memang tetap akan dikenang dan dikenal sebagai destinasi wisata nomor wahid di Indonesia. Namun, keberadaan Bali United semakin menambah daftar lokasi wisata di Pulau Dewata.

Suporter tamu tak hanya datang ke stadion lalu pulang dan kembali bekerja. Suporter tamu bisa datang jauh-jauh hari sebelum pertandingan dimulai untuk menikmati indahnya Pulau Dewata. Menikmati bir di bibir pantai saat matahari mulai terbenam, berselancar dan menyatu dengan ombak, lalu ditutup dengan mendukung tim kesayangan di Stadion Kapten I Wayan Dipta.

*Penulis bisa disapa di akun twitter @bang_pan71

**Tulisan ini merupakan hasil kiriman penulis melalui kolom Pandit Sharing. Segala isi dan opini yang ada dalam tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.